Postingan

Tantangan RCO Pekan ke Empat, Buku Favorit Kisah Rumah Tangga Nabi yang Bikiin Baper

Empat pekan sudah Reading Challenge ODOP berjalan.  Setiap pekan memiliki kesan tersendiri.  Pekan pertama berkesan karena sebagai pemanasan dalam challange ini.  Pekan ke dua berkesan karena mulai terbiasa dengan ritme, kebiasaan membaca hingga setoran. Pekan ke tiga, mulai menantang karena peserta  diwajibkan memilih buku yang di luar kebiasaan. Namun, ternyata bisa merasakan lega dan bangga kepada diri sendiri setelah bisa melewati tantangan. Alih-alih membosankan, tenyata membaca buku di luar kebiasaan memiliki kepuasaan tesendiri serta menambah ilmu baru. Jujur,  aku mengikuti challange ini setelah sekian lama absen dari menulis dan membaca.  Rasanya senang sekali bisa kembali "produktif" versi aku pribadi setelah mengikuti challange ini.  Terima kasih untuk Komunitas ODOP yang tetap mengadakan program bagus bagi para membernya.   Dan,  di pekan terakahir ini peserta kembali memperoleh tantang...

Bergabung dengan Ibu Profesional, Bukan Seorang Ibu Rumah Tangga Biasa

Bergabung dengan Ibu Profesional, Bukan Seorang Ibu Rumah Tangga Biasa Menyambung tulisan sebelumnya, masih terkait bahasan status WA dari seorang gadis yang ingin menjadi ibu rumah tangga karena lelah dengan tugas sekolah. Di tulisan kali ini saya justru ingin berbagi cerita, jika setelah menjadi Ibu rumah tangga, banyak hal baru yang ingin saya pelajari. Itu artinya banyak mengerjakan "tugas". Hal ini saya rasakan setelah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional.  Ibu Profesional adalah komunitas yang mewadahi untuk kaum perempuan agar bisa belajar, berkembang dan memaknai diri menjadi versi terbaik dirinya. Sejak bergabung dengan Ibu Profesional, banyak hal yang saya ketahui. Awalnya tidak tahu A, sekarang menjadi tahu. Bahkan bukan hanya A, justru B, C, D, dan seterusnya menjadi hal baru yang saya harus pelajari dan ketahui.  Sedikit cerita, awal mula saya mengetahui adanya komunitas  Ibu Profesional adalah karena bergabung dengan suatu komunitas literasi. Di komuni...

Banyak Yang Harus Dipelajari saat Menjadi Ibu Rumah Tangga

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat tulisan di beranda Facebook yang membahas foto screenshoot sebuah story WA dari seorang remaja. Di foto itu, tertulis story WA kurang lebih seperti ini,  "Gua capek sekolah, pengin nikah aja diem jadi ibu rumah tangga, biar nggak ada tugas sekolah lagi. #siapdilamar #nikahmuda #mamahmuda". Dalam tulisan satir itu, intinya membahas bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak seperti yang dibayangkan remaja tersebut. Kolom komentar pun dipenuhi pendapat ibu-ibu lain yang sependapat. Saya, yang juga ibu rumah tangga pun ikut gemas, ingin berkomentar.  Seandainya dia tahu bahwa menjadi ibu rumah tangga justru banyak yang harus dipelajari, bukan sekadar tugas sekolah. Ada banyak yang awalnya tidak tahu, justru baru diketahui saat sudah menikah dan memiliki anak. Pengalaman pribadi, saat masih gadis, belum tahu rasanya memikirkan menu apa yang akan dimasak sebagai hidangan makan makan pagi, siang, dan malam. Belum lagi cara memasaknya. Itu baru satu ...

TRADISI TILIK BAYI

Tradisi tilik bayi (Bahasa Jawa), atau menjenguk bayi yang baru lahir adalah hal yang umum dilakukan di masyarakat. Jika ada ibu yang baru melahirkan, saudara, tetangga, dan teman-teman, pasti akan banyak yang datang menjenguk. Lazimnya yang dilakukan saat menjenguk bayi, ada buah tangan yang dibawa. Suatu kebiasaan yang baik dan patut untuk dilakukan.  Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjenguk bayi.  1. Niatkan ibadah.  Menjenguk bayi tentunya akan sangat membahagiakan bagi ibu yang baru melahirkan. Selain sebagai teman ngobrol, menjenguk bayi akan membawa kebahagiaan  tersendiri karena si ibu merasa diperhatikan. Entah itu sebagai saudara, tetangga, atau sebagai teman. Hal ini tentu membuat hubungan silaturahmi menjadi lebih erat.  Oleh karenanya, niatkanlah ajang menjenguk bayi ini sebagai ibadah karena telah membawa kebahagiaan bagi ibu yang baru saja melahirkan.  2. Pilih waktu yang tepat.  Ketika kita akan menjenguk bayi, usa...

Waktu Terbuang Karena Aplikasi

Gambar
Foto : Pixabay Ponsel pintar dengan banyak ragam aplikasi memang menjadi satu benda yang paling disukai setiap orang. Bukan hanya disukai, namun juga dicintai. Satu benda yang orang tidak akan pernah lepas darinya. Tidak ada waktu semenit pun yang terlewati tanpa menggenggamnya, atau sekadar menengoknya.  Era digital yang kita alami sekarang memang tak mungkin lepas dari ponsel pintar. Suatu kebutuhan memang akan lebih mudah jika dibantu dengan aplikasi di ponsel pintar. Ketika kita butuh belanja kebutuhan, tinggal klik saja aplikasi toko online. Ketika kita butuh kemudahan dalam transaksi digital, aplikasi mobile banking atau aplikasi pembayaran lain, dengan mudah dapat membantu. Ketika kita butuh hiburan untuk melihat video, ragam aplikasi menyuguhkan tayangan yang sukses bisa membuat kita tertawa. Ribuan aplikasi bebas kita pilah-pilih untuk kita pasang di perangkat ponsel.  Seperti halnya banyak hal di dunia ini, aplikasi yang ada di ponsel kita pun memiliki dua sisi. Sepe...

Puasa Pertama Hanan

Puasa Pertama Hanan Ada saatnya anak bisa, ternyata memang berlaku untuk semua hal dalam tumbuh kembang seorang anak. Tidak hanya kemampuan fisik motorik dan kemampuan akademik seperti membaca, menulis, dan kemampuan lain, tenryata ada saatnya anak bisa pun berlaku untuk untuk puasa.  Ya, bulan Ramadan ini adalah puasa pertama bagi Hanan. Senang sekali ketika dia bisa menjalankan puasa satu hari full tanpa latihan setengah hari terlebih dahulu. Padahal, tahun lalu dia sama sekali tidak ikut puasa. Mungkin, belum tahu juga apa itu puasa, walaupun melihat kami orang tuanya menjalankan ritual di bulan puasa seperti buka dan salat tarawih. Alhamdulillah, tahun ini berbekal sounding beberapa kali menjelang Ramadan, dia bisa ikut puasa bersama kami.  Kemampuan Hanan berpuasa satu hari full pastinya sesuai dengan kemauannya sendiri. Tanpa dipaksa harus puasa, ternyata dia menjalani puasa ini dengan normal. Maksudnya tanpa lemas dan malas-malasan dalam beraktivitas. Kadang, aku sendir...

SAHABAT SURGA

Gambar
SAHABAT SURGA Foto : Pixabay Teringat sangat pertama kali jumpa. Kau begitu bersahaja dengan balutan gamis syar'i berwarna maroon dan hijab lebar menutup dada. Auramu begitu sejuk, kalem,  terpancar sosok penyayang dari sorot matamu. Pembawaanmu yang santai serta tutur katamu yang lirih, menandakan kau seorang yang lembut hatinya.  Di sebuah kajian islam, kali pertama kita bertemu. Rupanya kita sama-sama sedang mencari oase di tengah gersangnya iman. Aku tahu itu, karena  setelah berbasa-basi denganmu, ternyata kita memiliki kesamaan tujuan untuk datang ke taman-taman surga.   Kala itu aku terpana, melihatmu sesenggukan saat melantunkan ayat suci Alquran. Begitu dalamnya pengahayatanmu kepada kalam-Nya. Ya, masing-masing dari yang hadir di majelis ilmu itu memang mendapat giliran membaca barang beberapa ayat Alquran. Sungguh, bukan sekadar membaca seperti yang aku lakukan, namun kau menunjukkan ekspresi lain. Tubuhmu bergetar, diiringi lelehan air mata yang tak berh...

KECIL-KECIL KOK HUTANG? (MELUPAKAN HUTANG)

Gambar
Foto : Pixabay Suatu pagi datang sekelompok anak  hendak membeli alat-alat sekolah di toko kecil rumah kami. Ada yang membeli pensil, buku, penggaris, hingga memfotokopi akta kelahiran guna keperluan sekolah. Satu per satu dari mereka aku layani sesuai urutan kedatangannya dan urutan mereka bilang apa yang dibutuhkan. Hingga tiba giliran satu anak yang sebut saja namanya A. A ternyata tidak membawa cukup uang untuk membayar apa yang dibelinya yaitu seharga enam ribu rupiah. Dia hanya membawa dua ribu rupiah.  Tidak seperti kebanyakan anak lain yang merasa sungkan jika uang mereka kurang saat membeli, A ini justru dengan nada cuek dan tanpa gestur tubuh sopan santun berucap bahwa uangnya kurang.  "Duitnya kurang, nanti kurangannya." Cepat dan cuek, begitu dia berucap.  Aku hanya diam dan melanjutkan melayani anak lain. Dalam hati aku heran dengan sikapnya, tapi setelah diingat-ingat, ternyata dia dari keluarga yang "seperti itu". Ah, sudahlah, pasti ujung-ujungnya lu...

BERBAGI WARISAN

Gambar
Foto : Pixabay (Cerpen tema Keluarga)  "Gimana, Mas? Kamu setuju kan?"  Aku melirik ke arah Bapak demi mendengar ucapan dari Tante Mirna. Terlihat pria bergaris-garis halus di kulit wajahnya itu hanya diam. Sedetik kemudian dia mengangguk  mengiyakan.  Kuhela napas perlahan. Sikap Bapak sudah bisa ditebak. Sudah pasti dia akan menyetujui apa yang diucapkan adik bungsunya itu. Sekalipun permintaan Tante Mirna terkesan memaksa dan hanya dari salah satu pihak. Sebagai kakak tertua, Bapak tidak akan membuat masalah menjadi panjang demi ketenteraman di dalam keluarga.  "Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu, ya." Tante Mirna melangkah ke luar, pulang menuju rumahnya yang  hanya berjarak beberapa meter dari rumah kami. Beberapa hari ini terjadi percakapan serius di antara Bapak dan Tante Mirna. Pasalnya, tanah warisan Mbah Uti --ibu dari Bapak-- telah laku terjual. Sebagai anak, wajar bagi mereka untuk membagi hasil dari penjualan tanah itu. Tante Mirna yang anak ...

Ipsach, Desa Tenang dan Hi-Tech di Swiss

Gambar
Tugas Reading Challange ODOP pekan ke tiga adalah membaca buku bertema travelling, lalu menuliskan review salah satu destinasi wisata yang ada di buku tersebut. Wah, tantangan menantang, karena di lemari buku yang kupunya tidak ada buku bertema itu. Alhamdulillah salah satu teman di grup RCO berbaik hati untuk berbagi ebook. Ebook yang diberikan berjudul Berjalan di Atas Cahaya, yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais serta dua penulis kontributor lain.  Ebook Berjalan di Atas Cahaya Buku dengan jumlah 210 halaman itu berisi tentang perjalanan Hanum sebagian reporter TV untuk meliput kegiatan muslim Eropa di bulan Ramadhan. Sebenarnya buku tersebut lebih mengedepankan sisi spiritual atas kejadian-kejadian yang dialaminya. Hanum bercerita bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya yang ia sebut sebagai cahaya. Oleh karenanya, buku tersebut berjudul Berjalan di Atas Cahaya.  Selain bercerita tentang orang-orang luar biasa yang ditemuinya, Hanum juga melengkapi dengan ...

PUISI

ZAMAN EDAN Ketika nafsu setan telah dituruti Lupa sudah ikatan janji suci Kenikmatan semu bernama birahi Bersatu padu tenggelamkan nurani Ketika  syahwat menguasai jiwa Tak peduli besarnya dosa Sekumpulan anak adam asyik berpesta pora Tak tahu lagi di mana Tuhan berada Ketika harta tak lagi berguna Jiwa-jiwa sakit bergelimang dunia Bergumul liar berpuas rasa Tak sadar, iblis tengah tertawa Edan, sungguh zaman edan Surga dunia berselimut kemaksiatan Tak jadi soal berzina di jalan Aduhai, kemaksiatan begitu menawan Edan, sungguh edan Manusia-manusia berhati setan Berbangga berlomba menuhankan kepuasan Mereka lalai akan kebinasaan Oleh : Anisa Sustianing Pemalang, 16 Maret 2021 *** Sebuah puisi untuk memenuhi tugas ke dua Reading Challange Odop 9. Puisi tersebut terinspirasi dari buku bertema sosial yang menjadi syarat agat bisa lulus di pekan ke dua RCO ini. Buku yang aku pilih berjudul "20 Ciri Zaman Edan dan 20 Langkah Menghadapinya". Sebuah buku yang berisi atau menggambarka...

BERMAIN SEPEDA

Hari ini aku berencana memberikan permainan menggunting kepada Hanan dan Nada. Menggunting bentuk apa saja dari kertas lipat. Seperti biasa, Hanan sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan duduk tenang, berkaitan dengan kertas, pulpen, spidol, dan alat-alat lain. Hanya Nada yang menunjukkan ketertarikan dengan semua alat yang sudah disiapkan.  Hanan justru hari ini lebih sebagai bermain sepeda. Tak terhitung berapa kali dia berputar-berputar di luar dan di dalam rumah. Ya sudahlah lah, terserah dia saja. Lagi pula bermain sepeda pun pasti ada manfaatnya yang tidak kalah berguna dari belajar dengan alat tulis seperti itu.  Saat bermain sepeda, Hanan berimajinasi menjadi Pemimpin Cross.  "Mi, Hanan jadi Pemimpin Cross," ucapnya.  Disiapkannya peralatan yang mungkin bagi dia sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Helm, sepatu boot, baju , dan celana panjang, --padahal dia sudah memakai baju sebelumnya, jadi double bajunya--, bahkan sepedanya dia pasang benda agar saat ...

BOLEH PUKUL, JANGAN KENA

Waktu Hanan masih usia 3 tahunan,  dia suka sekali memukul. Energinya seakan tidak ada habisnya untuk loncat ke sana ke mari sambil memeragakan adegan berkelahi.  Adiknya yang kala itu masih bayi sering kena sasaran,  begitu juga saya.  Seringkali waktu berbaring mengASIhi adiknya, dia memeragakan adegan berkelahi, memukul,  dan melompati saya. Setelah saya ambil kesimpulan, sepertinya dia bertingkah seperti itu karena melihat film superhero seperti ultraman, robot-robotan,  dan sejenisnya. Mulai saat itu,  saya memutuskan untuk membatasi aksesnya melihat tayangan seperti itu di tivi.  Berbagai cara saya lakukan seperti mencabut diam-diam stop kontak tivi,  mematikan kilometer listrik, menghilangkan chanel tivi, dan lain-lain.  Jika langsung dimatikan tivinya,  patati dia akan menangis. Sewaktu belum mengerti,  Alhamdulillah cara ini berhasil.  Namun,  ketika dia sudah lebih besar, dia pun bisa tahu kalau saya yang me...

SELALU MENGINGAT SEJARAH DAN HIKMAHNYA

Setiap memasuki bulan Agustus, atmosfir berbeda pasti terasa ke mana pun kita pergi. Sepanjang perjalanan, berbaris bendera merah putih dan umbul_umbul warna-warni menghiasi pinggir jalan. Belum lagi kelap-kelip lampu hias, gapura di tiap gang dengan warna khas merah putih, atau mungkin hanya hiasan sederhana dari air berwana-warni yang diisikan ke dalam plastik dan digantung di batang pohon kecil. Sungguh suasana meriah yang tidak didapati selain bulan Agustus.  Di bulan Agustus pula, rasa nasionalisme kembali menyala dan membara dibandingkan bulan-bulan lain. Apalagi saat tanggal istimewa yaitu tanggal 17 Agustus, banyak terdengar lahu-lagu nasional diputar di beberapa tempat umum, di tayangan televisi, ataupun di perkantoran pemerintah. Ya, itu tidak lain karena bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan bagi negara Indonesia. Peristiwa bersejarah yang mengantarkan negara ini terbebas dari belengu penjajahan yang sekian lama diderita oleh rakyatnya. Proklamasi kemerdekaan yang dibac...

BAHAGIA MENJALANI PERAN

Gambar
Foto : Pixabay Tak terasa, menjelang enam tahun sudah pernikahanku. Tak terasa pula telah kulalui dua peran selama ini, yaitu menjadi istri dan ibu bagi dua anak hasil pernikahnku. Ah, bukan tak terasa … tapi sangat terasa. Bagaimana pun, menjadi seorang istri apalagi seorang ibu menuntut keahlian yang lebih. Bisa dibilang, ahli segala bidang. Kalau seperti di tulisan_tulisan yang beredar, ibu itu merangkap berbagai peran. Seorang guru, tukang masak atau koki, ahli keuangan, arsitek, jasa laundry, bahkan cleaning service. Ya … walaupun itu hanya kiasan, tapi cukup menggambarkan bahwa begitu banyak tugas dan kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang ibu. Dulu, selagi belum menikah, enak saja memikirkan nanti setelah menikah begini-begitu, gampang paling ya seperti itu kerjaan rumah tangga. Tapi nyatanya, ada saja kejadian mengejutkan yang dialami emak-emak daster sepertiku. Ada kalanya satu hari, di mana anak selalu rewel, tantrum, dan banyak maunya. Sedangkan mood kita sebagi ibu juga...

IBADAH QURBAN, SEBUAH UJIAN KEIKHLASAN

Gambar
Hari raya Idul Adha adalah hari raya ke dua umat islam yang selalu disambut penuh rasa syukur oleh umat islam. Setelah hari raya Idul Fitri tentunya. Jika saat Idul Fitri kita memiliki ritual khas yaitu puasa 30 hari sebelumnya di bulan Ramadhan, maka saat Idul Adha pun kita memiliki ritual khas yaitu puasa hari Arafah yang hanya satu hari yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Lebih baik lagi jika dilengkapi puasa tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah. Atau bahkan puasa sunnah mutlak dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan tanggal Dzulhijjah.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah)” (HR. Bukhari) Selain ritual khusus yaitu puasa sebelum  kedua hari raya ini, ada ciri khas lain dari masing-masing hari raya. Saat dul Fitri, ciri khas makanan yang tersaji adalah ketupat dan opor ayam, sedangkan saat Idul Adha adalah makanan hasil olahan dari daging kambing atau...

AKU DAN HOBI MEMBACAKU

Sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sangat suka membaca. Membaca apa saja yang ada di hadapanku. Entah itu majalah bekas, sobekan koran, bahkan buku-buku yang sudah usang. Aku paling ingat ketika ada majalah bekas di rumah bibiku. Saat itu hampir setiap ada kesempatan pasti aku isi dengan membaca. Sampai-sampai nenekku yang tidak bisa melihat pun  tahu, jika awalnya ada suaraku lalu tiba-tiba hening, sudah dipastikan bahwa aku tengah asyik membaca. Ah, jika mengingat masa itu betapa indahnya. Membaca seakan menjadi candu untukku.  Kegemaran membaca terus aku lakukan hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sekolah SMP ku yang tergolong favorit memiliki perpustakaan yang cukup komplit bagi ukuran sekolah di daerah. Buku apa saja jika itu menarik, pasti langsung aku pinjam. Bahkan beberapa  jilid atau seri ensiklopedia pun aku pinjam. Sampai-sampai kartu perpustakaanku beberapa kali ganti karena seringnya aku meminjam buku. Oh iya, aku paling ingat ...

DUA MOMEN ISTIMEWA TAK TERLUPA

Gambar
Kalau ngomongin pengalaman hamil dan melahirkan itu tidak akan ada habisnya. Rasanya selalu semangat ketika harus menceritakan dua momen menakjubkan yang dialami kaum wanita ini. Sampai kapan pun dua peristiwa penting itu pasti akan selalu teringat. Pas sekali tema arisan blog Squad Blogger Odop kali tentang hamil dan melahirkan, bertepatan dengan yang ada di pikiranku saat ini. Beberapa hari yang lalu, aku baru saja bercerita tentang proses kelahiran anak pertama, Hanan. Seperti yang aku sampaikan tadi, pengalaman melahirkan akan selalu teringat. Walupun sudah lima tahun berlalu, namun detik demi detik prosesnya masih sangat aku ingat. Sangkin ingatnya dengan detail proses itu, aku bahkan kemarin menuliskannya dalam ceita bersambung sampai lima part. Hmm, kalau diturutin, mungkin akan sampai sepuluh part. Sebenarnya bukan hanya bagi istri yang melahirkan, momen ini akan srlalu teringat, tetapi hal yang sama pasti akan dirasakan suami. Pengalaman pertama istri melahirkan pastinya sanga...