Jumat, 31 Juli 2020

IBADAH QURBAN, SEBUAH UJIAN KEIKHLASAN


Hari raya Idul Adha adalah hari raya ke dua umat islam yang selalu disambut penuh rasa syukur oleh umat islam. Setelah hari raya Idul Fitri tentunya. Jika saat Idul Fitri kita memiliki ritual khas yaitu puasa 30 hari sebelumnya di bulan Ramadhan, maka saat Idul Adha pun kita memiliki ritual khas yaitu puasa hari Arafah yang hanya satu hari yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Lebih baik lagi jika dilengkapi puasa tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah. Atau bahkan puasa sunnah mutlak dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan tanggal Dzulhijjah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah)” (HR. Bukhari)

Selain ritual khusus yaitu puasa sebelum  kedua hari raya ini, ada ciri khas lain dari masing-masing hari raya. Saat dul Fitri, ciri khas makanan yang tersaji adalah ketupat dan opor ayam, sedangkan saat Idul Adha adalah makanan hasil olahan dari daging kambing atau sapi. Ya, karena saat Idul Adha umat muslim akan menyembelih sapi atau kambing sebagai ritual ibadah satu tahun sekali ini. Yaitu ibadah qurban.

Bukan, bukan hendak membahas hidangan hari raya, namun saya akan mencoba menuliskan pandangan saya tentang ibadah qurban.

Ibadah qurban sebagaimana kita ketahui, pasti akan mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Nabi Ismail. Perintah dari Allah  yang dating melalui mimpi itu, sungguh merupakan ujian keimanan bagi seorang hamba-Nya.  Bagaimana tidak, anak yang sudah lama dinantikan sebagai keturunan dan generasi penerus, justru harus dikorbankan dengan cara yang menggetarkan. Disembelih dengan tangannya sendiri. Hanya manusia pilihan yang sanggup melewati ujian keimanan itu. Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, serta Nabi Ismail lulus dari ujian tersebut karena telah patuh dengan perintah Rabbnya. 

Allah Maha Bijkasana dan Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Allah mengganjar langsung ketaatan hamba-Nya dengan mengganti Nabi Ismail menjadi seekor kambing sesaat sebelum mata pisau mengenai leher Nabi Ismail. Sungguh peristiwa yang tertulis dlam Alquran surat As Saffat Ayat 102-111 ini selalu membuat hati bergetar saat membayangkannya. Bayangkan keikhlasan dan ketegaran  seorang ayah menyembelih anaknya sendiri. Bayangkan keikhlasan dan  ketegaran seorang istri sekaligus ibu merelakan anak darah dagingnya sendiri untuk disembelih sebagai wujud ketaatan kepada suami. 

Andai kau seorang Hajar, sanggupkah kau melakukannya? Sebuah pertanyaan yang mungkin serratus persen akan dijawab “tidak” oleh ibu-ibu kebanyakan. Melihat anak sakit pun rasanya tidak tega, bagaimana jika harus disembelih? Maasyaa Allah betapa tauhid kita sangat jauh berbeda dengan ibunda Hajar.

 Jika Nabi Ibrahim dan Hajar diuji dengan rasa sayang terhadap anaknya, maka kita diuji dengan rasa sayang terhadap harta. Sekarang kita hanya diperintahkan untuk mengorbankan sebagian harta kita, bukan mengorbankan anak. Sekarang kita hanya perlu melakukan ibadah qurban sebagai refleksi dari peristiwa “penyembelihan” Nabi Ismail. 

Ibadah qurban adalah ibadah yang menuntut keikhlasan dan kemauan serta niat kuat untuk melakukannya. Bukan masalah seberapa bnayak harta yang dipunyai untuk membeli hewan qurban, namun lebih kepada niat, usaha, dan doa yang dilakukan. Banyak di antara orang kaya yang masih enggan untuk melakukakan ibadah qurban padahal mereka mampu. Sebaliknya banyak dari kalangan orang kurang mampu justru bisa menunaikan ibadah harta ini, karena dilatarbelakangi oleh niat ibadah yang tulus. Allah pasti akan menolong hamba-Nya yang menolong agamanya.

Sungguh ibadah qurban adalah ujian keikhlasan bagi manusia. Apakah manusia akan dengan lantang berucap ‘Aku adalah Ismail” yang siap mengorbankan dirinya di jalan Allah. Atau malah menggenggam erat hartanya demi kenkimatan duniawi. Bagi orang-orang beriman tentunya akan berusaha meneladani keikhlasan Nabi Ismail untuk berkorban. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang diberi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakannya. Insyaa Allah Aamin.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha. Semoga Allah meridhoi niat dan usaha kita untuk senantiasa meneladani Sunnah Nabi dan keikhlasan keluarga Ibrahim dalam  melaksanakan ibadah qurban. Barakallah untuk semua sohibul qurban di mana pun berada. 

Mendengarkan gema takbir di dinginnya malam,  10 Dzulhijjah 1441 H.

Sabtu, 11 Juli 2020

AKU DAN HOBI MEMBACAKU

Sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sangat suka membaca. Membaca apa saja yang ada di hadapanku. Entah itu majalah bekas, sobekan koran, bahkan buku-buku yang sudah usang. Aku paling ingat ketika ada majalah bekas di rumah bibiku. Saat itu hampir setiap ada kesempatan pasti aku isi dengan membaca. Sampai-sampai nenekku yang tidak bisa melihat pun  tahu, jika awalnya ada suaraku lalu tiba-tiba hening, sudah dipastikan bahwa aku tengah asyik membaca.

Ah, jika mengingat masa itu betapa indahnya. Membaca seakan menjadi candu untukku. 

Kegemaran membaca terus aku lakukan hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sekolah SMP ku yang tergolong favorit memiliki perpustakaan yang cukup komplit bagi ukuran sekolah di daerah. Buku apa saja jika itu menarik, pasti langsung aku pinjam. Bahkan beberapa  jilid atau seri ensiklopedia pun aku pinjam. Sampai-sampai kartu perpustakaanku beberapa kali ganti karena seringnya aku meminjam buku.

Oh iya, aku paling ingat ketika meminjam buku Tom Sawyer. Cerita tentang anak nakal yang berpetualang bersama-sama temannya. Yah, namanya sudah belasan tahun, aku lupa-lupa ingat cerita apa saja yang ada dalam buku Tom Sawyer itu. Aku pun lupa siapa penulis buku itu. Yang pasti, aku sangat berkesan dengan buku itu.

Setelah lulus dari SMP, aku melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Kejuruan. Waktu pertama masuk ke jenjang sekolah ini, yang aku cari tidak lain adalah perpustakaan. Aku ingin melanjutkan kegemaranku meminjam buku di perpustakaan. Namun, sayang sekali, perpustakaan di sekolahku yang baru ini tidak seperti yang aku bayangkan. Buku-buku yang tersedia tidak sesuai dengan minatku. Lebih bannyak tentang buku akuntansi, penjualan dan lain sebagainya. Mungkin karena sekolah kejuruan, jadi lebih banyak menyediakan buku seperti itu. 

Sejak saat itu, kegemaran membacaku sedikit berkurang. Aku lebih suka menghabiskan waktu bercanda, ngobrol bersama teman dari pada membaca. Sungguh sangat disayangkan.

Waktu pun terus berjalan, bagaimanapun aku masih memiliki ketertarikan untuk membaca. Aku tidak mempunyai buku favorit. Setiap buku yang menurutku eye catching , aku baca. Tidak terpatok harus buku fiksi atau novel. Novel yang aku baca pun tidak banyak. Bahkan jujur saja, aku tidak pernah membeli novel, hehe. Hanya pernah diberi hadiah oleh teman, yaitu novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. 

Yah, bagiku membaca tidak harus terpatok pada jenis tulisan tertentu. Membaca buku nonfiksi seperti kumpulan artikel jika itu menarik dan informasinya sangat aku butuhkan, sudah pasti aku membelinya. Teringat beberapa waktu lalu ketika salah seorang teman memasang story WA Open PO buku Pemuda Bukan Remaja, karya Kiki Barkiah,  aku langsung tertarik, dan tanpa pikir panjang ikut dalam antrian untuk membelinya.

Sekarang ketika sudah menceburkan diri dalam dunia literasi dan tergabung dalam beberapa komunitas kepenulisan, buku-buku yang aku beli ya tidak lain buku antologi bersama teman-teman di komunitas, seperti ODOP ini.  Tapi, entah kenapa ada saja rasa kantuk yang mendera, ketika membaca buku. Berbeda jika membaca tulisan di media sosial, membaca sampai beberapa jam pun mata masih sanggup melek. Tidak merasa ngantuk sedikit pun. Mungkinkah karena sekarang eranya literasi digital? Ehm, entahlah. 

Apa pun itu membaca adalah hobi yang bermanfaat. Seperti kata pepatah, membaca adalah jendela dunia. Dan itu sangat benar adanya. Jadi, yuk terus tularkan kegemaran membaca.

Jumat, 03 Juli 2020

DUA MOMEN ISTIMEWA TAK TERLUPA

Kalau ngomongin pengalaman hamil dan melahirkan itu tidak akan ada habisnya. Rasanya selalu semangat ketika harus menceritakan dua momen menakjubkan yang dialami kaum wanita ini. Sampai kapan pun dua peristiwa penting itu pasti akan selalu teringat.

Pas sekali tema arisan blog Squad Blogger Odop kali tentang hamil dan melahirkan, bertepatan dengan yang ada di pikiranku saat ini. Beberapa hari yang lalu, aku baru saja bercerita tentang proses kelahiran anak pertama, Hanan. Seperti yang aku sampaikan tadi, pengalaman melahirkan akan selalu teringat. Walupun sudah lima tahun berlalu, namun detik demi detik prosesnya masih sangat aku ingat. Sangkin ingatnya dengan detail proses itu, aku bahkan kemarin menuliskannya dalam ceita bersambung sampai lima part. Hmm, kalau diturutin, mungkin akan sampai sepuluh part.



Sebenarnya bukan hanya bagi istri yang melahirkan, momen ini akan srlalu teringat, tetapi hal yang sama pasti akan dirasakan suami. Pengalaman pertama istri melahirkan pastinya sangat membuat para calon bapak baru merasa tegang, grogi, bahkan mungkin takut.  Jadi teringat ketika habis melahirkan Hanan, iseng aku membuka hape Suami, aku lihat chatnya dengan teman-teman. Dalam satu chat kepada bagian personalia kantornya tertulis, 

[Maaf ya Mbak, tadi nggak sempat ijin dulu. Maklum lagi tegang-tegangnya]. 

Wah, membaca chat itu aku langsung merasa senang sekali sekaligus terharu. Ternyata walaupun pembawaanya kalem, tetap saja dia merasa grogi. So sweet dah, hehe …. Oh iya, yang paling membuat aku merasa sangat dicintai oleh Suami adalah ketika ibuku bercerita, kalau Suami sempat nangis sambil cium tangan Ibu waktu mereka habis sholat maghrib berjamaah paska menemaniku melahirkan anak pertama.

Huaaa I love you so, my husband, itu semua aku lakukan untukmu dan anakmu, wkwkwk. 

Ah, ada lagi momen manis saat ‘suami mendampingi istri melahirkan’ yang dilakukakan suamiku. Waktu lahiran anak ke dua, mungkin dia tidak segrogi dulu waktu melihatku melahirkan anak pertama. Namun, tetap saja rasa grogi pasti ada. Terbukti begitu anak ke dua lahir, dia langsung cium-cium keningku pertanda senang campur lega mungkin ya, hehe ….

Untuk meyakinkan seperti apa yang dirasakan Suami ketika mendampingi istri melahirkan, kemarin aku sempat tanya ke dia, 
“Bi, pas Ummi lahiran Hanan, Abi perasaannya gimana tuh? Jujur lho, ini buat data tulisan, haha.”

Setelah beberapa detik seperti berpikir akhirnya dia jawab,
“ Ya, gimana ya? Pastinya harap-harap cemas, dan pasti mensuport dong.”

“Yakin? Nggak kasihan gitu lihat Ummi kesakitan?” semakin kepo aku tanya, mumpung kan lagi bahas ini.

“Ya nggak lah, kalau kasihan kan kesannya nggak ngasih semangat. Malah bisa bikin Ummi down juga kan?”

Oh iya iya, aku pun manggut-manggut. Benar sekali yang diucapkannya. Aku selalu ingat apa yang dilakukannya ketika mendampingku melahirkan. Beberapa kali selama menunggu pembukaan lengkap, dia selalu mensuport dengan melafalkan doa-doa yang ditiupkan ke ubun-ubunku. Itu menjadi penyemangat tersendiri bagiku dalam melaui proses persalinan. 

Alhamdulillah sekali, beruntung memiliki suami siaga yang dibutuhkan saat melalui proses itu. 

Seperti halnya melahirkan, proses yang tak kalah unforgetable adalah masa-masa sembilan bulan sebelumnya. Yaitu ketika menjalani proses kehamilan. Proses kehamilan memang proses yang penuh cerita. Bahkan, dalam Al Quran pun Allah membahas masalah ini. Dalam Surat Luqman Allah menyebutkan bahka kehamilan adalah proses kepayahan yang bertambah-tambah. Maasyaa Allah betapa mulianya perjuangan wanita dalam melalui proses kehamilan.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika wanita hamil banyak merasakan hal-hal berbeda dari sebelumnya. Banyak mitos tentang ibu hamil yang biasa dialami oleh beberapa wanita. Pernah mendengar seorang wanita hamil yang katanya benci sama bau suaminya, benci bau sabun, benci bau makanan, dan lain sebagainya. Katanya kalau bau itu tercium pasti akan sebal atau yang umum dialami, yaitu mual-mual. Jadi, mereka akan sebisa mungkin menjauhinya.Tapi ada pula wanita hamil  yang malah mencari bau. Katanya ada wanita hamil yang suka bau minyak tanah, suka bau bensin, dan lain sebagainya.

Hal-hal aneh di luar kebiasaan itu mungkin hanya bagi sebagian orang. Kalau aku sendiri sama sekali tidak mengalami hal-hal aneh bahkan ngidam sekalipun. Dua kehamilan yang sudah aku jalani sama sekali tida berbeda dengan hari-hari biasa. Hamil, hamil aja, nggak pake ngidam atau aneh-aneh. Tidak ada pantangan. Kata orang sih namanya hamil ngebo. Satu-satunya hal yang paling berasa beda saat hamil adalah nafsu makan yang tinggi. Ehem, bawannya laper terus, apa aja dimakan, hehe ….

Ini pun yang membuat aku bersyukur lagi. Manjalani kehamilan yang ringan dan menyenangkan. Tanpa mual, tanpa keluhan berarti, tanpa ngidam aneh-aneh, dan yang pasti ngebo. Tidak ada makanan yang ditolak oleh perut. Selalu bersyukur dengan apa yang aku alami. Semoga di kehamilan selanjutnya, akan seperti ini terus yang terjadi. 

Bagiku, hamil dan melahirkan adalah dua momen istimewa sekaligus menyenangkan yang tak akan pernah terlupa. Dari dua proses inilah gelar dan peranku berubah. Dari yang dulunya seorang anak, lalu berubah menjadi istri. Setelah dua proses inilah peranku berubah menjadi ibu. Maasyaa Allah Barakallah, terima kasih Engkau telah Mengamanahkan buah hati kepadaku dan Suami. Semoga anak-anak yang aku lahirkan menjadi anak sholih/ sholihah yang selalu taat pada Allah dan Rasul-Nya. Dan menjadi penyelamat bagi orang tuanya di akhirat kelak. Aaamiin.

Kamis, 25 Juni 2020

KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI



Pandemi yang disebabkan oleh virus covid -19 memang telah merubah beberapa pola kehidupan manusia. Tak terkecuali dalam dunia pendidkan. Kebijakan pendidikan di masa pandemi mengharuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah diganti dengan kegiatan belajar online yang dilakukan di rumah. Hal ini tentu membawa dampak tersendiri bagi beberapa pihak yang terlibat, yaitu guru, murid, dan wali murid.

Bagi  para guru, kegiatan belajar secara online tentunya menuntut pengetahuan teknologi yang lebih luas. Penguasaan beberapa aplikasi wajib dimiliki oleh para guru guna memudahkan  tugasnya dalam mengkoordinir tugas dari para siswa. Misalnya saja, aplikasi Google Classroom. Bagi para guru yang melek teknologi, mungkin hal ini bukan masalah besar. Namun, berbeda bagi para guru di pedesaan dengan akses internet terbatas dan mungkin  juga penguasaan akan aplikasi yang kurang. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

Bagi para murid, kebijakan sekolah di rumah membuat mereka harus lebih aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dituntut aktif agar tidak ketinggalan kegiatan belajar secara online.

Bagi para orang tua,  pembelajaran di rumah berbasis online,  mengharuskan mereka berperan aktif mendampingi putra-putrinya dalam prosesnya.  Kecakapaan,  kesabaran,  dan letelatenan menjadi syarat yang harus dimiliki.  Namun,  sayang kenyataan di lapangan,  banyak oramg tua yang mengeluhkan akan hal ini.  

Dampak yang ditimbulkan dari kebijkaan pendidikan di masa pandemi ini mungkin tidak akan terlalu berat dirasakan bagi warga perkotaan dengan akses internet dan sumber daya manusia yang memadai.  Wali murid dengan penguasaan ilmu pengetahuan engerahuan dan kecakapan bisa menjalaninya  enjoy.  Banyak hikmah yang bisa diambil ketika bisa mengajari anak sendiri di rumah.  Bahkan tak jarang dari mereka yang tetap meilih untuk Home Schooling ketika kebijakan New Normal perlahan diterapkan. 

Berbeda dengan masyarakat di desa terpencil atau pelosok,  proses belajar dari rumah berbasis online menjadi kendala tersendiri agar bisa tetap berjalan.  Jaringan internet yang tidak memadai dan sumber daya manusia --dalam hal ini wali murid--,  yang kurang berkompeten membuat proses ini tersendat. 


Keadaan miris juga bisa dilihat saat proses belajar di rumah berbasis online ini tidak bisa dijalankan.  Banyak anak-anak yang menghabiskan waktu mereka hanya untuk bermain-main.  Kalau pun mereka mengikuti atau mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh guru dari ponsel orang tuanya,  tetap saja penerimaan materi tidak semaksimal saat mereka mendapatkan pelajaran di sekolah. 


Keadaan berbanding terbalik yang membuat prihatin. Semoga wabah Covid - 19 ini dapat segera berlalu dan membuat segala aktivitas kembali normal seperti sedia kala. 

Minggu, 14 Juni 2020

NEW NORMAL, SEBUAH HARAPAN DENGAN KETERBATASAN


Pandemi virus corona yang melanda dunia  telah melumpuhkan  beberapa aspek kehidupan manusia. Semua kegiatan manusia dalam berbagai bidang terpaksa berhenti. Kegiatan prekonomian menjadi terganggu dengan ditutupnya pasar, toko, pusat perbelanjaan lain, bahkan tempat wisata. Mobilitas manusia yang dibatasi, mau tak mau pun membuat kegiatan transportasi  melemah dan membuat penurunan pendapatan bagi penyedia jasa transportasi.

Kegiatan pendidikan terganggu dengan ditutupnya sekolah. Walaupun diganti dengan pembelajaran melalui sistem on line,tetap saja hal ini sedikit berdampak kurang baik bagi para peseta didik. Kita tentu tahu, bahwa tidak semua orang bisa menerima pembelajaran berbasis on line seperti ini. Masyarakat kampung yang terbatas sarananya, tidak sepenuhnya bisa mengikuti sistem pembelajaran ini. Kalau pun bisa mengikuti, ada kendala lain yang mengikuti. Yaitu, tidak semua orang tua wali murid berkompeten untuk mengajari anaknya bersekolah di rumah.  Hal ini saya lihat sendiri di lingkungan tempat saya tinggal, banyak peserta didik khususnya tingkat Sekolah Dasar yang tidak mengikuti kegiatan pembelajaran secara on line. Akibatnya, mereka hanya bermain-main untuk menghabiskan hari-harinya.

Masih banyak dampak yang terjadi karena virus corona ini. Kegiatan agama seperti salat berjamaah di masjid, tepaksa tidak bisa dilakukan  beberapa bulan lamanya. Perasaan sedih dan kecewa telah mewarnai  ibadah Raamdhan kaum muslimin satu bulan yang lalu. Bagaimana pun kita tentu sangat menginginkan melakukan ibadah salat di masjid seperti  sebeum pandemi  ini ada. Namun, dalam rangka mematuhi aturan pemerintah sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus, kita harus menerima keadaan.

Semua orang merindukan kehidupan seperti sedia kala. Harapan baru  pun muncul saat pemerintah mengumumkan untuk bersiap menghadapi  tatanan hidup baru atau kita sebut dengan New Normal. Banyak orang menganggap New Normal sebagai kegembiraan. Mereka menganggap ini adalah bentuk lepasnya belenggu. Menganggap ini adalah akhir dari keterbatasan yang selama ini dirasakan. Benarkah demikian? Padahal banyak juga yang merasa bahwa keadaan New Normal ini adalah keadaan yang dipakasakan. Bagaiman tidak? Ketika masih banyak korban dan pasien karena virus covid – 19 ini, justru akses penyebaran virus seakan tebuka lebar dengan dibukanya berbagai fasilitas umum.

New Normal ini memang sebuah pilihan yang sulit. Namun siap tidak siap kita harus menghadapinya. Tetapi yang perlu diingat, bahwa New Normal ini tidak sama dengan kebebasan kita sebelum adanya pandemi  virus corona. Ada rambu-rambu yang perlu kita lakukan demi antisipasi dan keamanan diri sendiri.  Rambu-rambu tersebut adalah perubahan perilaku berupa kebiasaan baik yang perlu kita lakukan di antaranya.

1. Selalu menjaga kebersihan diri

Kita tentu tidak pernah tahu kapan dan di mana kita bisa bersinggungan dengan virus corona. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menjaga kebersihan di mana pun kita berada. Menjaga kebersihan rumah yang kita tinggali dengan membersihkannya dengan  cairan pembersih yang mengandung disinfektan. Mencuci tangan sesering mungkin,  terutama setelah berada di luar rumah. Atau, menggunakan hand sanitizer ketika tidak menemukan tempat untuk  mencuci tangan ketika berada di luar rumah.

2. Gunakan masker

Masker menjadi benda wajib yang harus dibawa, jika kita pergi ke luar rumah terutama di tempat keramaian seperti bank, pasar, angkutan umum dan lain sebaginya. Sayangnya, banyak orang yang stengah hati menggunakan masker. Banyak yang terlihat menggunakan masker namun tidak menutup hidungnya. Semoga dengan adanya edukasi, mereka dapat lebih mengerti pentingnya masker.

3. Menjaga jarak dan hindari keramaian

Himbauan menjaga jarak dan menghindari kermaian seyogyanga masih kita lakukan sekalipun sudah diberlakukan New Normal. Keasadaran diri untuk tidak mengambil resiko tentunya menjadi pilihan yang baik. Sebisa mungkin untuk tidak keluar rumah jika bukan karena hal yang mendesak. Bersabar untuk mengendalikan nafsu ingin bebas bepergian. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mendisiplan diri tetap melakukan kebiasaan baik ini, seperti saat sedang diberlakukan anjuran #dirumaja. 

Kembali  ke New Normal. 

Kondisi New  Normal tentu menjadi sebuah harapan untuk bangkit dari keterpurukan, terutama dari segi ekonomi. seperti yang kita tahu, banyak perusahaan gulung tikar akibat dari pandemi virus corona. Banyak karyawan yang dirumahkan karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami penurunan pendapatan. Bagi kalangan dengan ekonomi rendah, mungkin kondisi ini tidak terlalu terasa. Karena mereka terbiasa hidup dengan keterbatasan. Kalangan bawah ini pun sedikit  terbantu dengan adanya keringanan biaya listrik dan mendapat bantuan sosial dari pemerintah sebagai sumber keuangan ke dua. 

Namun bagi mereka kalangan menengah ke atas yang biasa memiliki penghasilan tetap, kondisi ini tentu sangat sulit. Sumber keuangan ke dua bagi mereka mungkin  dengan cara menjual aset yang mereka miliki, atau membanting setir melakukan pekerjaan yang belum pernah dilakukannya. Jadi teringat seorang saudara, dia mendapat imbas terkena PHK dari kantor travel tempatnya bekerja, namun dengan kegigihan dia mencoba peruntungan mengambil kursus menyetir agar memiliki ketrampilan lain yang bisa digunakan untuk bekerja di bidang lain sebagai sumber keuangan ke duanya. Lain lagi seorang tetangga yang bekerja di sebuah pabrik konveksi. Perusahaaan tempatnya bekerja merumahkan sebagian karyawannya, namun dengan ketrampilan menjahitnya, dia bisa membuka jasa jahit di rumahnya sebagi sumber keuangan ke duanya.

New Normal, menjadi titik balik kehidupan baru. Sebuah harapan kembali normal yang dibarengi dengan keterbatasan. Semoga segera berlalu pandemi  virus corona ini sehingga kehidupan normal seperti sedia kala dapat kita rasakan.

Sumber foto : Pixabay

Jumat, 05 Juni 2020

PENTINGNYA ADAB SEBELUM TIDUR 2

Foto : Pixabay



Beberapa waktu yang lalu, pernah membaca sebuah berita di laman media sosial tentang seorang anak yang tewas ketika tidur karena digigit ular welang/ weling. Sungguh peristiwa  yang cukup mengenaskan,  mengingat  kejadian ini tentunya sangat tidak terduga. Ketika sedang dalam keadaan tidak sadar,  ternyata ada bahaya yang mengancam. 

Sama, seperti kejadian yang aku ceritakan di postingan sebelumnya, ketika telinga suami kemasukan serangga saat sedang tertidur, sehingga merasa kesakitan.


Hal-hal tak terduga seperti inilah yang perlu kita waspadai dan perlu diantisipasi agar tidak terjadi.  Bagaimana caranya?  Yaitu dengan cara melaksanakan adab-adab sebelum tidur.

Adab pertama adalah membersihkan tempat tidur.  

Membersihkan tempat tidur bukan hanya benar secara logika untuk mencegah apa-apa yang sekiranya berbahaya bagi diri kita seperti hewan,  atau kotoran apa pun yang membuat tidur kurang afdhal. Namun,  ternyata hal ini adalah salah satu sunah Rasul.  

Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

 إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.
 “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim] 

Membersihkan tempat tidur bukan hanya membersihkan kotoran atau bahaya yang mungkin terselip di tempat tidur,  tapi juga untuk mengusir segala keburukan, termasuk godaan syaitan. 

Adab sebelum tidur yang ke dua,  adalah berwudhu sebelum tidur.  

Keadaan tubuh yang bersih membuat kita lebih rileks dan terjaga dari kotoran atau apa pun yang membuat tidur kita tidak nyaman.

Dasarnya adalah hadits berikut,

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu sebagaimana wudhu’mu untuk melakukan shalat.”
[HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710] 

Ke tiga,  membaca ayat-ayat perlindungan,  seperti Ayat Kursi dan ayat terakhir aurat Al Baqarah. Selain itu, membaca surat pendek yang dianjurkan yaitu Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas.

Ayat-ayat perlindungan tersebut dibaca dengan cara mengumpulkan dua telapak tangan (posisi berdoa). Setelah membaca ayat perlindungan tersebut,  ditiup dan kemudian dengan dua telapak tangan mengusap bagian tubuh yang dapat dijangkau dengannya dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan, hal ini diulang sebanyak 3 (tiga) kali.
 [HR. Al-Bukhari dalam Fat-hul Baari XI/277 no. 4439, 5016 (cet. Daar Abi Hayaan), Muslim no. 2192, Abu Dawud no. 3902, At Tirmidzi no. 3402 dan Ibnu Majah no. 3539

Ke empat membaca doa sebelum tidur, yaitu dengan membaca do’a

 بِسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا. 
“Dengan Nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup.” 
[HR. Al-Bukhari no. 6324 dan Muslim no. 2711] 

Adab terakhir,  jangan lupa untuk meneladani Rasulullah dalam tidur,  yaitu memiringkan badan ke kanan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

اِضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ اْلأَيْمَنِ. 
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” 
[HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710]

Segala sesuatu memanglah ada aturannyaa demi mendapatkan kebaikan. Dengan melakukan adab-adab sebelum tidur,  Insyaa Allah akan selalu dalam lindungan-Nya hingga kita terbangun lagi.  

Hadits mengutip di al manhaj.com

Kamis, 28 Mei 2020

MEMASAK KETUPAT DI MAGIC COM

Lebaran tahun ini sungguh berbeda. Social distancing karena pandemi Corona membuat aktivitas di hari raya sedikit terbatas. Silaturahim yang biasanya kita lakukan dengan pertemuan keluarga pun harus ditunda pelaksanaannya. Berkumpul di hari raya tahun ini cukup dengan keluarga inti atau keluarga dekat yang memang selalu bersama sehari-harinya. Bukan keluarga yag datang dari luar kota.

Namun begitu, suka cita Idul Fitri tetap kita rasakan.  Bagaimanapun Idul Fitri adalah hari raya yang patut kita rayakan walau dengan keterbatasan. Salah satu tradisi untuk merayakannya adalah dengan menghidangkan makanan khas Idul Fitri,  seperti kue-kue lebaran, ketupat dan opor ayam,  atau makanan lainnya.  

Ngomong-ngomong tentang ketupat, ini adalah salah satu makanan yang cukup khas. Ketupat mirip lontong,  karena sama-sama terbuat dari beras. Yang membuat khas adalah bungkusnya yang terbuat dari daun kelapa atau janur yang dianyam sedemikian rupa dan membentuk sebuah bangun. 

Selain itu, memasak ketupat  pun memiliki cara tersendiri,  yaitu harus direbus lama sampai beberapa jam.  Walaupun sekarang ada metode merebus cepat, tetap saja merebus ketupat lama tetap menjadi pilihan,  demi mendapat ketupat yabg tanak dan tahan lama.  

Merebus lama tentunya membuat sedikit repot dan boros. Repot jika menggunakan tungku atau pawon,  dan boros jika menggunakan kompor gas.  Untuk itu,  ada alternatif lain memasak ketupat yang bisa menjadi pilihan jika tidak ingin repot atau pun boros, yaitu menggunakan magic com.  

Berawal dari ide suami beberapa tahun lalu, saya sudah terbiasa memasak ketupat menggunakan magic com.  Banyak teman yang penasaran dengan cara dan hasilnya ketika saya posting di status media sosial.  

Sebelum dimasak

Setelah dimasak


Lalu,  bagaimana cara memasak ketupat dengan magic com?  Berikut langkah-langkahnya. 

1. Masukkan beras di wadah ketupat.

Untuk hasil yang baik,  masukkan berasa tidak sampai separuh dari wadah ketupat. Bisa diukur dengan menekan ketupat untuk mengecek isinya. 

2. Tata wadah ketupat yaang sudah berisi beras ke dalam magic com.  Saya menggunakan magic com ukuran standard dan muat untuk 15 buah. 

3. Tuang air ke dalam magic com sampai penuh.

4. Tekan tombol Cook,  masak sampai sekitar satu jam. 

5. Setelah satu jam,  air akan berkurang.  Masukkan kembali air sampai penuh.  Masih dalam posisi Cook. 

6. Masak terus sampai sekitar 2 - 3 jam. 
Saya biasa memasaknya sampai dua setengah jam.  

7. Setelah matang,  cabut kabel magic com yang masih posisi Cook tersebut. 

8. Angkat ketupat, tiriskan. 

Catatan yang perlu diingat,  ketika memasak menggunakan magic com ini,  air akan meluber ketika air mendidih. Untuk mengatasinya,  letakkan lap di sekitar magic com untuk mencegah air meluber lebih luas. 
Bagaimana?  Tertarik untuk mencoba memasak ketupat menggunakan magic com?  Selain praktis dan tidak boros gas,  memasak ketupat menggunakan magic com juga bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan lain, sehingga sangat efisien waktu.

Selamat mencoba. 

IBADAH QURBAN, SEBUAH UJIAN KEIKHLASAN

Hari raya Idul Adha adalah hari raya ke dua umat islam yang selalu disambut penuh rasa syukur oleh umat islam. Setelah hari raya Idul Fitri ...