Senin, 09 Desember 2019

FITRAH ANAK DALAM MELUAPKAN EMOSI

Foto : Google

Beberapa hari belakangan,  aku dibuat pusing oleh tingkah laku dua anak balitaku. Bingung, bete,  putus asa, dan kesal seringkali yang dirasakan saat menghadapinya. Masalahnya apa lagi kalau bukan sibling rivalry. Masalah yang pasti ada di antara kakak beradik. 

Anak pertama yang berusia 4,5 tahun memang belum sepenuhnya mengerti apa arti memiliki adik.  Tak jarang bahkan seringkali dia masih memukul adiknya. Padahal,  aku sudah memberitahukannya bagaimana harus bersikap kepada adik.  Harus menyayangi dan tidak boleh memukul. Namun,  tetap saja dia memukuli adiknya, tidak merasa bersalah sedikit pun atas apa yang dilakukan.  Begitu pun adiknya yang berusia 2 tahun.  Dia hanya bisa menangis saat dipukul,  tapi sejurus kemudian tetap bermain bersama kakaknya.

Namanya juga anak-anak yang belum sempurna nalarnya. Sugesti yang sering aku pikirkan kala menghadapinya. Tetapi, sebagai manusia biasa yang rawan akan godaan syaitan, aku pun tak luput meluapkan emosi. Apalagi bagi seorang ibu rumah tangga yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART. Rasa lelah kadang menambah ketidakstabilan emosi.

Nada tinggi pun meluncur tak terkendali dengan raut muka tidak ramah. Kalau sudah begini,  biasanya hanya penyesalan yang datang. Astaghfirullah ....

Masalah pukul-memukul diperparah dengan fase ke-aku-an dari mereka berdua. Seringkali mereka berebut, entah itu makanan,  mainan, bahkan aku ibunya. Masing-masing dari mereka berusaha memepertahankan apa yang diinginkan. 

"Ini Umminya Hanan", "Ini mainannya Hanan", kalimat-kalimat seperti yang sering diucapkan si Kakak saat berusaha memberitahukan "otoritasnya" kepada adiknya.

"Bukan,  ini Umminya Dede Nada", "Bukan, ini mainan Dede Nada", kalimat seperti itu pula yang diucapkan si Adik yang berusaha mempertahankan pendapatnya.  

Berbagai masalah dalam sibling rivalry ini menjadi rutinitas yang selalu terjadi antara mereka berdua. Tangisan dan teriakan menjadi senjata bagi mereka untuk memperebutkan perhatian ibunya.

Sebagai ibu, aku berusaha untuk bersikap adil.  Walaupun sikapku tetap tidak bisa menghentikan dengan serta merta tangisan dan teriakan mereka.  Ah,  sungguh, menjadi ibu itu harus selalu memahami apa kemauan anak.  Salah sedikit saja pasti menimbukkan drama tangisan yang sulit dihentikan. 

***

Tangisan dan teriakan.  Sebenarnya ini adalah yang wajar dilakukan oleh anak-anak. Dalam sebuah kuliah WhatApps yang aku ikuti, nara sumber mengatakan bahwa setiap jenjang usia  memiliki cara tersendiri dalam meluapkan emosinya atau membahsakan maksudnya.

Berikut penjelasannya:

1. Rentang usia 0 sampai 2 tahun (bayi) 

Dalam rentang usia ini,  anak hanya bisa pasif saat melampiaskan emosinya.  Pasif yang seperti apakah? Yaitu dengan menangis.  Bisa dilihat kondisi anak bayi yang sering menangis saat mengungkapkan sesuatu.

2. Rentang usia 3-4 tahun (toddler)

Dalam rentang usia ini,  anak akan lebih agresif saat mengungkapkan sesuatu.  Atau saat melampiaskan amarahnya.  Seramgan fisik atau pukulan menjadi andalan anak usia ini untuk menarik perhatian orang tuanya.

3. Rentang usia 5 sampai 6 tahun (Anak TK / SD).

Pada rentang usia ini,  anak akan lebih memilih serangan verbal saat melampiaskan amarahnya.  Hal ini bisa dilihat saat anak TK atau SD saling mengejek kepada teman-temannya. 

4. Rentang usia > 6 tahun. 

Pada usia ini,  anak sudah lebih sabar menghadapi emosinya. Berkata mengungkan pendapat mungkin sudah bisa dilalukan saat menghendaki hal yang tidak mereka sukai. 

Begitulah,  fase anak-anak dalam meluapkan emosi.  Ibu harus tahu apa saja kebisaan meraka dalam meluapkan emosi. 

Dan bagiku, ingatan akan materi di kuliah WhatApp ini menjadi pengingat tersendiri agar tidak terlalu emosi menghadapi tangisan dan teriakan anak.  Ya,  karena itu fitrah mereka. 

PENDIDIKAN DENGAN PEMBIASAAN DI USIA EMAS

Foto : Pixabay

Anak adalah peniru yang ulung. Mereka akan dengan mudah meniru apa yang orang tua lakukan dan ucapkan. Fase meniru ini terjadi di usia Golden Age, yaitu usia 1 hingga 3 tahun. Namun,  mencapai puncaknya ketika berusia 2 tahun, yaitu saat anak mulai belajar berbicara.   Maka,  sudah sepantasnya kita sebagai orang tua harus memperhatikan apa yang kita lakukan dan ucapkan di depan anak-anak.  

Saat anak mulai bisa berbicara, kita hendaknya berbicara yang baik-baik.  Pemilihan kata adalah hal yang wajib kita perhatikan.  Ketika orang tua mengucapkan kata-kata kotor, maka besar kemungkinan anak-anak akan merekam di memori otaknya,  sehingga bukan hal yang mustahil mereka akan mengucapkannya di kemudian hari.  Begitupun sebaliknya,  ketika ucapan lemah lembut dan sopan santunlah yang terlontar dari mulut orang tua, anak-anak akan terbiasa untuk bersikap dan bertutur demikian. 

Tayangan televisi maupun audio yang terbiasa mereka dengar,  tak luput untuk mereka tiru. Penting bagi orang tua untuk memilihkan tayangan dan audio yang baik bagi anak.  Anak-anak yang terbiasa mendengar musik yang tidak sesuai dengan usianya, sebut saja musik dangdut,  maka mereka akan terbiasa dengannya.  Mereka pun akan dengan mudah menghafal apa yang didengar.  Sungguh,  suatu hal yang tidak boleh terjadi jika anak-anak lebih familiar dengan musik yang notabene tidak bermanfaat bagi mereka sama sekali.  

Setiap orang tua, tentunya lebih condong memilihkan kebaikan kepada anak. Video dan audio yang baik seperti video murotal Al Quran bisa menjadi pilihan bagi para orang tua untuk diperlihatkan dan diperdengarkan kepada anak-anak. Hal ini bisa menjadi salah satu ikhtiar agar anak terbiasa dengan ayat-ayat Al Quran agar mereka bisa menghafalnya di usia dini. Karena,  seperti yang sudah dijelaskan,  usia balita adalah usia emas bagi anak-anak dalam meniru. 

Sebagai ibu dua orang anak,  saya pun berusaha memanfaatkan momen Golden Age anak ini untuk membiasakan hal baik di rumah. Saya dan suami berusaha untuk memperlihatkan kebiasaan baik,  yaitu membiasakan sholat tepat waktu. Misalnya,  ketika sudah terdengar adzan Maghrib ,  maka suami bergegas mengajak anak sulung kami yang laki-laki berusia 4 tahun untuk berwudhu dan berangkat ke masjid untuk melakukan sholat. Tak jarang,  anak ke dua yang berjenis kelamin perempuan,  ingin turut serta bersama ayah dan kakaknya ke masjid.  Saat itulah saya memberi pengertian kepadanya,  bahwa perempuan lebih baik sholat di rumah. Saya pun mengajaknya melaksanakan ritual sholat di rumah,  berharap agar ia melihat dan merekam kebiasaan baik ini.  

Kebiasaan meniru saat momen Golden Age ini sangat terlihat efeknya ketika kita mengajari anak-anak melalui pembiasaan.  Anak sulung saya adalah tipe yang tidak betah duduk berlama-lama untuk belajar.  Ketika saya berusaha mengajarinya hafalan surat-surat pendek Al Quran atau doa-doa harian dengan cara biasa (duduk berhadapan) ,  ia tidak begitu respect.  Namun,  ketika saya mengajarinya sambil bermain dan mempraktekannya langsung,  hasilnya jauh lebih baik. 

Mengajarkan doa mau makan misalnya, saya akan mengucapkan doa tersebut ketika kami sudah bersiap menyantap makanan. Ketika mengajarkan doa bangun tidur,  saya akan mengucapkannya di telinga anak-anak ketika melihat mereka membuka mata di pagi hari.  Begitu pun ketika mengajari anak  doa masuk ke kamar mandi,  saat berjalan ke kamar mandi,  saya melafalkan doa tersebut dan membimbing anak-anak untuk menirunya. 

Pendidikan dengan pembiasaan, itulah yang berusaha saya terapkan. Apa yang anak-anak dengar dan lihat,  akan mereka tiru dengan sendirinya. Anak kedua yang baru berusia dua tahun pun sudah hafal beberapa doa harian  karena terbiasa mendengar apa yang saya ucapkan bersama kakaknya.  

Memang, dalam pelaksanaannya masih belum perfect seperti yang diharapkan.  Adakalanya anak meniru ucapan yang tidak baik karena mendengar dari lingkungan sekitar. Meniru apa yang teman-teman mereka --yang usianya lebih tua-- ucapkan. Lagu-lagu dewasa yang sedang viral dan trend di masyarakat,  terkadang mereka masih menirunya. 

Menyadari hal itu,  saya sebagai orang tua, berusaha memberi pengertian kepada anak-anak, memberi tahu mereka mana hal yang baik atau buruk.  Tidak semua yang mereka dengar itu baik. Saya pun menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang mudah dipahami,  bahwa perkataan buruk tidak boleh diucapkan.

Golden Age,  waktu yang tidak akan mungkin terulang dalam fase tumbuh kembang anak.  Manfaatkan waktu emas ini untuk mengajarkan kebaikan kepada mereka. Perlihatkan dan perdengarkan hal baik kepada mereka demi terciptanya generasi berakhlakul karimah. 



Minggu, 08 Desember 2019

MENGHARGAI WAKTU

Foto : Pixabay

Setiap orang tentu memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan. Ya,  tentu saja  menyelesaikan pekerjaan tersebut sesuai dengan amanatnya.  Siapa pun dia. Karyawan perkantoran bertanggung jawab terhadap tugas dari bosnya. Pekerja bertanggung terhadap pekerjaan dari majikannya.  Siswa bertanggung jawab terhadap tugas sekolahnya. Mahasiswa bertanggung jawab terhadap tugas kuliahnya. Bahkan, ibu rumah tangga pun bertanggung jawab atas tugas domestiknya di rumah.  Dan yang terutama,  seorang hamba bertanggung jawab atas kewajibannya terhadap Tuhannya. 

Namun,  seringkali tugas-tugas itu tertunda. Tak jarang pula malah terbengkalai. Sebagai contoh,  ketika seorang siswa tidak mengerjakan Pekerjaan Rumahnya (PR). Kewajiban yang seharusnya dikerjakan,  malah tidak dikerjakan olehnya. Serupa pula dengan seorang hamba yang tidak mengerjakan kewajibannya terhadap Tuhannya, yaitu beribadah kepada-Nya. 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pekerjaan atau kewajiban kita tidak dilakukan. Atau lebih tepatnya terbengkalai. 

Faktor pertama, karena kita menundanya. 

Menunda pekerjaan dapat menyebabkan pekerjaan tersebut justru terbengkalai. Bagaimana tidak?  Karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Seorang siswa berniat mengerjakan PR, namun ia menundanya hingga malam hari.  Ternyata,  saat malam hari lampu mati,  sehingga kesulitan untuk mengerjakannya.  Akhirnya, kewajiban mengerjakan PR pun jadi terbengkalai. 

Kedua,  karena kita menyepelekannya. 

Sama halnya saat kita menunda, menyepelekan tugas dapat juga berakhir dengan terbengkalainya tugas tersebut. Seorang mahasiswa menyepelekan tugas dari dosennya. Ia menganggap bisa mengerjakan dengan mudah.  Ternyata,  tugas itu tidak sesederhana yang dibayangkan,  ada beberapa hal yang mesti dipersiapkan. Menyepelekan yang seiring sejalan dengan menunda, akhirnya membuat tugas tidak dikerjakan. 

Ketiga,  menuruti hawa nafsu.  

Biasanya, muncul rasa malas untuk mengerjakan suatu kewajiban. Ketika kita lebih mementingkan hawa nafsu, maka sudah dapat dipastikan pekerjaan akan terbengkalai. Niat hati akan sholat Isya, namun ia bermalas-malasan sambil menonton televisi terlebih dahulu.  Ternyata ia ketiduran sangat nyenyak hingga tebangun di waktu Subuh. Sholaat Isya pun terlewati, karena ia lebih menuruti hawa nafsunya untuk bermalas-malasan malam tadi.  

Begitulah,  ketika kita menunda, menyepelekan,  dan menuruti hawa nafsu yang tidak baik,  maka pekerjaan atau kewajiban bisa terbengkalai. Padahal,  waktu tidak bisa berjalan mundur. Apa yang sudah terjadi,  tidak dapat kita hindari. 

Sebenarnya ada beberapa tips agar kita tidak terbiasa menunda atau menyepelekan tugas, diantaranya:

1. Membuat jadwal dan mematuhinya.

Sebagai contoh, seorang siswa membuat jadwal untuk mengerjakan PR di jam tertentu.  Misalnya saja setelah makan malam.  Jika jadwal yang ia buat dipatuhi,  maka kecil kemungkinan keewajibannya akan terbengkalai.

2. Konsisten 

Ketika kita konsisten terhadap tugas kita,  maka halangan atau godaan apa pun bisa kita taklukan.  Agar apa yang menjadi tugas kita terlaksana dengan baik. 

3. Sedikit tapi rutin. 

Pekerjaan yang dilakukan sedikit demi sedikit namun rutin, dapat membuat kita terhindar dari rasa malas. Karena,  rasa malas biasanya muncul saat kita melihat tugas yang banyak.  Jika kita rutin menyicil tugas kita,  maka kesan berat darinya,  tidak begitu terasa. 

Pepatah asing mengatakan,  never put off till tomorrow what you can do today, yang artinya jangan pernah menunda sampai besok apa yang bisa dikerjakan hari ini. Lakukan tugas dan kewajiban sebisa mungkin tanpa menundanya.  Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian.

Ungkapan bahwa time is money,  waktu adalah uang, agaknya bisa menjadi penegasnya. Hargailah waktu yang ada dan manfaatkan sebaik mungkin agar semua berjalan sesuai alurnya. Kita tentu tidak ingin penyesalan yang akan terjadi,  bukan? 



Sabtu, 07 Desember 2019

TUMBASIN, BELANJA DAPUR JADI LEBIH MUDAH

Aplikasi Tumbasin

"Masak apa hari ini?" 

Satu pertanyaan yang selalu hadir di pikiran ibu rumah tangga setiap harinya. Memasak memang sebuah aktivitas yang gampang-gampang susah. Bagi yang hobi memasak,  mungkin akan dengan enteng meracik segala bahan yang tersedia menjadi hidangan lezat. Namun,  bagi yang mempunyai kemampuan memasak standard,  mungkin pertanyaan seperti itu akan selalu hadir. 

Bukan taanpa alasan, kebingungan untuk memilih menu masakan,  biasanya seiring dengan keterbatasan bahan yang tersedia.  Ketika ada keinginan untuk memasak opor ayam dan membuat bakwan misalnya,  ternyata kelapa untuk membuat santan tidak ada di rumah.  Belum lagi, tepung terigu dan bawang daun untuk membuat bakwan,  ternyata habis tak bersisa di tempat biasanya. 

Masalah akan bertambah jika masakan harus dihidangkan esok di pagi hari sebelum suami berangkat kerja dan anak berangkat sekolah. Sementara hari telah malam.  Aduh, Emak berdaster pasti dibikin pusing tujuh keliling.

"Gimana mau masak besok? Cari di mana udah malem gini?" mungkin itu kalimat yang akan menari-nari di pikiran. 

Ups, ada yang pernah mengalami kejadian seperti itu?  Kalau saya sih sering. Pengalaman saya selalu merasa kebingungan ketika akan memilih bahan masakan. Tidak jarang,  kebingungan itu diperparah dengan "gerobak kosong" dari tukang sayur yang lewat. 

Yah,  udah ditungguin lama-lama ternyata sayurannya sudah habis.  

Bahkan,  yang lebih parah lagi ketika sudah menunggu tukang sayur lumayan lama,  ternyata hari itu nggak jualan.  Ah,  lengkap sudah kebingungan Emak.  

Apa harus masak mie instant?Kasihan anak-anak dan suami kalau seperti itu terus. Seandainya saja ada cara yang lebih mudah untuk berbelanja sayuran dan teman-temannya?  Pasti akan sangat membantu Emak berdaster yang punya masalah seperti ini. 

Dan ternyata, sekarang sudah hadir Tumbasin. Sebuah aplikasi untuk berbelanja kebutuhan dapur di pasar tradisional secara online. Permasalahan perdapuran seperti yang saya sering alami tadi, kini sudah ada solusinya. Emak berdaster harus punya aplikasi ini. 

Sebenarnya, seperti apa sih Tumbasin itu?  Check it out! 

Dari namanya,  unik juga nama aplikasi ini.  Tumbas dalam Bahasa Jawa berarti beli, jadi tumbasin mungkin saja berarti beliin,  hehe .... Ya,  walaupun mungkin tidak ada hubungannya nama aplikasi ini dengan Bahasa Jawa,  namun teknis pelayanan aplikasi ini kurang lebih seperti itu.
Pilih pasar yang diinginkan

Dalam aplikasi Tumbasin,  kita sebagai customer tinggal memilih bahan makanan apa saja yang akan kita beli.  Kemudian,  pihak Customer Service akan meneruskan kepada personal shopper dan driver. Personal shopper inilah yang akan berbelanja ke pasar tradisional mitra dari Tumbasin, memilihkan bahan makanan terbaik sesuai pesanan kita.

Sebelum memesan barang,  customer dapat memilih pasar mana yang akan dituju.  Ketika sudah memilih pasar,  barulah kita dapat mencari barang apa saja yang hendak dibeli dan memasukannya ke dalam keranjang belanja. Semua bahan tersedia komplit. Tinggal telusuri saja ikon jenis produk yang hendak kita beli.  Mulai dari sayuran,  lauk-pauk,  bumbu,  seafood,  sembako,  jajanan,  dan buah.  Ketika sudah selesai memesan,  lakukan pembayaran melalui fitur yang tersedia.  Kemudian Customer Service akan memprosesnya. 
Pilih jenis produk 

Harga barang tertera di aplikasi 

Batas waktu pemesanan adalah pukul 00.00, dan pesanan hari ini akan diantar keesokan harinya.  Jadi,  alangkah lebih baiknya jika kita sudah memikirkan belanja apa saja agar tidak terlewat. Karena pemesanan melebihi waktu yang ditentukan akan dikirim lusa. Pengantaran barang sendiri dimulai pukul 06.00 sampai pukul 10.00.

Menggunakan aplikasi ini sungguh sebuah kemudahan bagi ibu rumah tangga.  Bayangkan saja,  kita hanya tinggal duduk manis dan membayar ongkos kirim sebesar Rp. 10.000, belanja sudah ada yang mengantarkan ke depan pintu rumah. Driver dari Tumbasin juga akan mengembalikan uang kembalian sisa belanja, jadi tidak perlu khawatir uang kembalian kita akan hilang. 

Mungkin ada yang beranggapan jika harganya pasti berbeda dengan yang di pasar. Tetapi tidak, harga yang tertera pada aplikasi,  sama dengan harga di pasar tradisional. Harga memang dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan, karena sesuatu hal. Namun jika harga yang tertera berbeda dengan yang dibelanjakan, customer dapat mengajukan komplain kepada Customer Service.  

Customer Service selalu dapat dihubungi jika customer mengalami kendala dalam pemesanannya.  Misalnya saja ketika kita hendak membatalkan salah satu barang pesanan atau menggantinya dengan barang lain.  Begitu pula ketika barang yang kita pesan ternyata sudah habis di pasar,  Customer Service akan segera menghubungi pelanggan. Sebagai catatan,  jika pesanan kita sudah dibelanjakan oleh personal shopper,  maka pembatalan pesanan tidak dapat dilayani. 

Wah,  asyiknya Tumbasin ini. Jika dulu,  berbelanja di pasar tradisional menghabiskan waktu dan tenaga untuk memutari kawasan pasar,  kini dengan Tumbasin kita bisa melakukan hal lain sembari menunggu pesanan belanja kita datang.  

Dengan Tumbasin,  belanja dapur jadi lebih mudah.  Tumbasin,  sahabat Emak berdaster. 

Jumat, 06 Desember 2019

MENSPAD, SOLUSI HEMAT DAN SEHAT UNTUK WANITA

Menspad NADHIF

Menspad?  Apa itu menspad? Dari namanya sudah dapat ditebak. Bagi kaum laki-laki,  mungkin bahasan ini agak kurang nyaman. Tapi, tidak masalah, karena ini hanya sebatas sharing yang semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. 

Menspad adalah singkatan dari mens dan pad.  Mens, berarti menstruasi atau haidh  sedangkan pad berarti bantalan.  Menspad adalah bantalan untuk menstruasi,  atau  biasa kita sebut pembalut. 

Namun,  menspad berbeda dengan pembalut pada umumnya yang dijual dipasaran atau ditayangkan dalam iklan televisi.  Menspad adalah pembalut kain cuci ulang. Namanya saja cuci ulang,  berarti bisa dicuci dan tidak ada bagian yang dibuang. 

Sudah beberapa bulan ini, aku memutuskan beralih dari pembalut ke menspad. Lumayan untuk mengurangi produksi sampah rumah tangga.  Biasanya, aku membakar sampah plastik dan kertas, namun seringkali merasa sebal jika ada yang tidak bisa terbakar. Ya,  apalagi kalau bukan sampah pembalut.  Sampah yang satu ini memang sulit sekali terbakar karena basah. Oleh karena itu, aku tertarik untuk beralih ke menspad. 

Permasalahan sampah adalah hal yang tidak akan pernah ada habisnya.  Setiap hari di setiap rumah pasti menghasilkan limbah yang sudah pasti menyumbang penumpukan di Tempat Pembuangan Sampah (TPA). 

Masyarakat perkotaan mungkin cukup lega dengan adanya truk sampah yang mengambil sampah di tiap rumah dan menampungnya di TPA.  Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan akses, mereka tidak menghimpun sampah untuk kemudian diambil oleh truk sampah. Meski demikian,  masyarakat pedesaan memiliki sedikit kemudahan untuk membuang sampah.  Di pedasaan bisa dengan mudah membuang sampah di pekarangan rumah yang masih terbilang luas.  

Namun,  hal ini tentu menimbulkan masalah yang lain lagi.  Berapa banyak sampah yang akan menggunung jika setiap hari ditimbun oleh limbah rumah tangga dengan aneka sampahnya?  Apalagi jika itu adalah sampah yang tidak bisa terurai seperti plastik,  bekas pembalut,  dan sampah diapers? 

Menspad bisa menjadi pilihan bagi yang ingin mengurangi produksi sampah di rumahnya.  Karena,  menspad seperti layaknya pakaian biasa yang bisa dicuci,  jadi tidak ada limbah yang terbuang.

Menspad NADHIF

Sebenarnya apa yang menjadikan menspad berbeda dengan pembalut biasa?  Berikut beberapa alasannya:

1. Ramah lingkungan

seperti yang sudah disebutkan,  bahwa penggunaaan menspad bjsa mengurangi produksi sampah.  Dengan berkurangnya produksi saampah,  maka otomatis akaaan membuat lingkungan lebih bersih

2.  Menghemat anggaran belanja kaum wanita. 

Kebutuhan bulanan membeli pembalut  tidak perlu lagi dipikirkan. Ya,  walaupun harga pembalut relatif murah,  namun jika diakumulasikan setiap bulannya,  maka akan terlihat selisih harganya jika dibandingkan dengan pembelian menspad yang hanya butuh satu kali di awal. Perbandingan harga pembalut dan menspad cukup banyak. Harga satu buah menspad bisa kita gunakan untuk membeli 2 sampai 3 pak pembalut isi 8 pcs. 

Jika dipertimbangkan untuk penghematan jangka panjang, menspad lebih memiliki keunggulan. Karena,  menspad tidak dibuang,  melainkan dicuci. Jadi,  bisa digunakan sampai setahunan lebih.

3. Nyaman

Terkadang ketika memakai pembalut biasa,  kita merasakan sedikit keras pada bantalan pembalut dan menyebabkan ketidaknyamanan atau bahkan iritasi.  Namun,  penggunaan menspad ini bisa mencegah hal tersebut. Permukaan menspad yang lembut membuatnyya lebih terasa nyaman. 

4. Aman 

Kelebihan menspad lainnya dibandingkan dengan pembalut adalah keamanannya.  Menspad tidak mengandung bahan pemutih atau kimia lain yang bisa membahayakan kesehatan.  Beberapa kali ditayangkan dalam berita televisi jika merk-merk pembalut yang beredar di pasaran mengandung pemutih yang membahayakan kesehatan organ reproduksi wanita. 

Selain beberapa perbedaan dari segi manfaat,  ada beberapa perbedaan lain antara menspad dan pembalut.  Yaitu,  perbedaan materialnya. Jika pembalut biasa sebagian besar terdiri dari plastik dan bahan sintetis lain,  maka berbeda dengan menspad.  Dalam menspad, beberapa sebagian besar terbuat dari bahan kain,  hanya sedikit yang terbuat dari plastik. Berikut uraiannya:

a.  Kain Spunbond untuk bagian kain motif
b.  Plastik parasut untuk anti bocor.  Jadi tidak tembus
c. Kain fleace untuk penyerapan yang maksimal
d.  Kain PE untuk permukaan atasnya,  yang berbahan halus dan lembut.

Oh iya,  sekadar sharing,  aku menggunakan menspad merk "Nadhif". Cukup hemat di kantong.  Menspad layak menjadi pilihan untuk kaum wanita yang ingin berhemat dan memperhatikan kesehatan. 

Kamis, 05 Desember 2019

BALIHO DAN POSTER, YANG TERSISA DARI PEMILU

Poster Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019.

Beberapa bulan kemarin saat musim panen di kampung saya,   ramai orang menjemur hasil panennya.  Ada yang menjemur padi, jagung,  maupun singkong. Beberapa macam alas mereka gunakan untuk menjemurnya,  seperti terpal,  plastik,  bahkan spanduk/ poster/ baliho bergambar calon anggota legislatif  (caleg) dan presiden serta wakil presiden. 

Pemandangaan ini mengingatkan saya pada hajatan negara bulan April tahun 2019 lalu.  Pesta demokrasi yang sangat besar, karena merupakan pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan anggota DPD, serta pemilihan anggota legislatif (DPR) dari tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat yang dilakukan serempak di seluruh Indonesia.  

Setiap kali pemilu diadakan selalu ramai dengan adanya kampanye yang diselenggarakan beberapa minggu sebelumnya. Berbagai media digunakan untuk memperkenalkan kandidat yang bersaing di arena politik itu. Salah satu media yang digunakan untuk berkampanye adalah baliho/ poster. Ya,  baliho dan poster bergambar caleg dari masing-masing partai dan juga calon presiden serta wakilnya menghiasi setiap sudut kota maupun desa.  

Tak terhitung berapa banyak baliho dan poster yang berbaris di pinggir jalan. Aneka ukuran dari yang kecil hingga ukuran sangat besar ditancapkan menggunakan bilah bambu atau kayu.  Bahkan, banyak pula yang sengaja dipaku di pohon.

Foto : Google
Poster Caleg 



Bagi sebagian warga negara, termasuk saya, mungkin sedikit terganggu dengan pemasangan gambar-gambar caleg ini. Bayangkan, ketika setiap sepuluh meter ditancapkan gambar yang sama,  sekalipun dengan ukuran yang relatif kecil. Belum lagi baliho yang berukuran sangat besar di beberapa titik. Hal ini tentu menimbulkan kesan tidak rapi saat memandangnya.

Memang sah-sah saja memasang gambar caleg,  karena itu merupakan alat peraga kampanye yang sesuai aturan. Namun,  sebagai warga negara yang berhak beropini, saya ingin menyuarakan pendapat. Mungkin alangkah lebih baiknya jika diadakan regulasi untuk pemasangan baliho/ poster ini agar lebih tertata. 

Pemasangan baliho dan poster, sarana kampanye yang tentunya menghabiskan banyak dana bagi para caleg yang mencalonkan diri, juga dapat menimbulkan masalah tersendiri.  Setelah pesta demokrasi selesai dilaksanakan, "limbah" baliho dan poster  ini akan menumpuk, menyisakan ratusan bahkan ribuan gambar yang tak terpakai di masing-masing daerah.  Beruntung jika masih bisa digunakan oleh masyarakat sebagai suatu benda yang berguna seperti cerita saya tadi, atau seperti dalam sebuah tayangan berita bahwa ada seorang designer yang menggunakan poster atau baliho ini sebagai bahan pembuatan jaket.  Namun, terkadang kondisi baliho yang sudah rusak karena terpasang dalam waktu yang cukup lama,  membuatnya hanya berakhir sebagai sampah.  

Oleh karenanya, perlu diadakan regulasi agar pemasangan baliho dan poster ini lebih rapi,tidak telalu banyak menghabiskan dana, dan tidak menyisakan sampah yang berlebih.

Pemasangan baliho/ poster sebaiknya diatur agar hanya menempati titik tertentu. Yang terpenting adalah pesan dari baliho dan poster tersebut diterima oleh masyarakat.  Intinya,   di tempat yang strategis. Tidak perlu memasangnya di setiap sudut kota atau desa, karena akan menimbulkan kesan yang tidak rapi. Jarak pemasangannya pun harus diatur agar tidak terlalu rapat, sehingga lebih sedikit baliho dan poster yang dipasang. Hal ini tentu bisa menekan biaya pembuatan baliho/ poster tersebut. 

Selain itu,  ukuran baliho adalah salah satu yang harus dipertimbangkan agar kesan rapi tetap terlihat. Baliho berukuran sedang 1mt x 1mt mungkin bisa menjadi pertimbangan sebagai patokan baliho yang ideal. Baliho yang berukuran besar,  selain rawan rusak terkena angin juga menimbulkan kesan yang tidak rapi.  Dalam artian,  terlalu mencolok.  Sedangkan baliho/ poster  berukuran kecil yang dipasang terlalu rapat,  juga menimbulkaan kesan yang terlalu ramai.  Apalagi jika malah dipaku di pohon.  Tentunya, ini membuat  kerusakan tersendiri bagi lingkungan,  walaupun dampaknya tidak terlihat secara langsung. 

Pesta rakyat adalah pesta seluruh warga negara.  Bukan hanya bagi para kandidat yang bersaing di panggung politik, namun juga warga negara yang berhak memperoleh kenyamanan dalam hal apa pun. Dalam hal ini adalah kenyamanan visualnya. 

Kampanye yang bertujuan untuk  memperkenalkan kandidat akan lebih baik jika dilakukan dengan cara pendekatan langsung kepada masyarakat. Mengadakan diskusi atau pemaparan program kerjanya di beberapa tempat milik instansi pemerintah seperti balai desa misalnya, bisa menjadi sarana kampanye yang patut dipertimbangkan selain pemasangan baliho/ poster yang berlebihan.  

Rabu, 04 Desember 2019

MENYEPELEKAN HUTANG?

Foto : Google 

Tempo hari aku bertemu kawan lama. Sudah lebih dari setahun mungkin kami tidak bertemu. Memang susah sekali rasanya bisa bertemu dengan kawan-kawan yang dulu sering menghabiskan waktu bersama. Kini,  dengan kesibukan masing-masing dan segala kondisinya sebagai ibu rumah tangga membuat kami jarang bertatap muka.  

Singkat cerita kami ber-say hello karena secara tak sengaja bertemu. Namanya juga ibu rumah tangga, emak-emak,  kalau bertemu teman pasti lumayan banyak yang dibicirakan. Pertemuan ini pun mau tidak mau mendorongku untuk berkata kepadanya, bahwa suaminya yang juga mengenalku mempunyai kewajiban yang belum dibayar.  Memang sedikit kurang sopan,  tapi apa boleh buat.  Mumpung sedang bertemu,  pikirku. Sebuah kewajiban juga sebagai seorang muslim untuk menagih hutangnya, kan?  

Mendengar hal itu,  kawanku pun kaget.  Padahal yang aku tahu dia pun mengetahui hal ini.  Dulu pernah menagih hutang suaminya melalui nomor ponselnya juga. 

Bukan tanpa alasan aku menagihnya secara spontan seperti itu. Karena,  sudah bekali-kali aku menagih melalui ruang chatting.  Namun,  apa yang terjadi?  Alasan demi alasan menjadi senjata untuk selalu mengulur waktu untuk bisa membayar hutangnya. Hingga hampir satu setengah tahun dari ikrar hutang itu terucap.  

Entah,  caraku kali ini pun, membuatku tidak begitu yakin bahwa dia akan membayar hutangnya. Paling tidak aku sudah mengingatkannya kembali,  mungkin juga ini yang terakhir kali.  Karena jujur,  aku sudah bosan dan sedikit menyerah jika masih harus menagih hutang. 

Ceritaku ini bukan untuk membuka aib seseorang, namun lebih bertujuan agar dapat diambil pelajaran darinya. 

Di dalam hidup ini,  memang ada sebagian orang yang terkesan menyepelekan masalah hutang ini.  Terkadang ketika akan meminjam uang,  atau membeli barang dan tidak langsung membayarnya,  orang akan dengan enteng melakukannya.  Namun,  ketika ditagih akan kewajibannya, berbagai alasan diucapkan untuk mengundur pembayarannya. Satu kali,  dua kali,  atau tiga kali alasan mungkin masih bisa diterima, barangkali memang belum mempunyai uang untuk mengembalikannya.  Namun,  jika setiap kali ditagih hingga waktu yang lama masih tetap beralasan, apakah itu wajar?  Apalagi jika tidak menunjukkan itikad baik hendak membayarnya. 

Jika sudah demikian,  kebanyakan orang bersikap yang bersikap seperti itu akan lupa terhadap hutangnya.  Awalnya menyepelekan,  justru lupa di kemudian hari. 

Benarlah sabda Rasulullah,

"Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang maka bila berbicaraia akan berdusta dan bila berjanji ia akan mengingkari" (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal urusan hutang adalah perkara yang berat,  seperti dalam hadits Rasulullah yang lain,

ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺭَﺟُﻞٍ ﻳَﺪَﻳَّﻦُ ﺩَﻳْﻨًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺠْﻤِﻊٌ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳُﻮَﻓِّﻴَﻪُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻟَﻘِﻰَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﺎﺭِﻗًﺎ

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.”(HR.  Ibnu Majah) 

Hadits mengutip di muslim.or.id

Sebenarnya hutang itu boleh-boleh saja, tapi mesti ada ada syaratnya. Seperti kata Ustadz Raehanul Bahrain dalam tulisannya, "Jangan bermudah-mudahan dalam berhutang". Sebisa mungkin, hutang adalah jalan terakhir ketika tidak ada solusi.  Bukan malah mengandalkan hutang dan sengaja berhutang ketika kita jelas-jelas bisa cash di awal. Dan, bagi seorang muslim pun ada doa untuk terhindar dari hutang. 

Kalau boleh memilih, mungkin kebanyakan orang memilih untuk tidak mempunyai hutang. Tetapi, terkadang keadaan membuat kita tak bisa  menghindarinya.  Ketika berhutang,  niatkan pula agar kita akan membayarnya,  melunasi kewajibaan kita.

Menunda membayar hutang hanya akan menjadi penyebab tertundanya rezeki. Karena bukan tidak mungkin orang yang meminjamkan uangnya pun mempunyai kebutuhan lain. Kalau sebagai orang yang meminjam, tidak mau mengembalikan entah itu karena lupa --kebanyakan pura-pura lupa-- atau sudah berjanji tapi selalu ingkar, itu berarti sudah berbuat tidak adil terhadap orang lain.

Bijaklah dalam berhutang. Bayarlah hutang yang kita punyai . Semoga Allah memberi jalan rezeki ketika ada keniatan untuk melunasi hutang. 


FITRAH ANAK DALAM MELUAPKAN EMOSI

Foto : Google Beberapa hari belakangan,  aku dibuat pusing oleh tingkah laku dua anak balitaku. Bingung, bete,  putus asa, dan kesal se...