Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cermin

KURBAN TANDA CINTA

Dua minggu menjelang Idul Adha, ada orang bertamu ke rumah. Kulihat ditangannya terdapat satu buah golok. Orang tersebut pun menjelaskan bahwa kedatangannya untuk mengantar golok pesanan suamiku. "Nunggu ya, Pak. Sebentar lagi pulang," ucapku kepadanya. Tak berapa lama suamiku pulang. Mereka pun terlibat obrolan mengenai benda itu, tentang material dan harganya. Hingga akhirnya orang tersebut pulang. "Abi beli golok?" tanyaku sedikit heran. "Iya," jawab suamiku. "Oh, buat nyembelih kurban nanti Idul Adha, ya?" tanyaku kemudian, "emang yang nyembelih nanti siapa?" "Ya nanti ada orang-orang yang bisa, termasuk Abi" jawab suamiku sambil melihat-lihat golok tersebut. "Ih ... kok Ummi ngerasa serem sih, Bi" ujarku sambil meringis. Suamiku memang termasuk panitia kurban di dusun tempat kami tinggal. Setiap tahun dia terlibat mengurusi segala keperluan untuk penyembelihan kurban hingga bertindak sebagai salah satu ...

BERTEMU ANAK PUNK

Siang tadi di perempatan jalan. Saat menunggu lampu lalu lintas menyala warna hijau, kami bertemu anak punk. Berjarak dua mobil di depan kami, aku berbisik kepada suami, "Bi, Ummi takut." Bukan apa-apa, tapi karena penampilan anak punk ini terlihat lebih ekstrim. Anak punk yang memang berpenampilan serba hitam, kucel, dekil, dan lusuh dengan rambut tak terawat biasanya hanya menimbulkan kesan, apa ya ... entahlah. Persepsi masing-masing mungkin berbeda. Namun, anak punk di depan kami, berpostur tinggi dengan rambut gondrong dan wajah serta leher penuh dengan tatto berwarna hijau. Melengkapi warna hitam kulitnya. Ini yang membuatku sedikit takut. Suamiku hanya terdiam mendengar bisikanku. Ketika anak punk itu sampai di depan kami dengan bernyanyi asal diiringi tepukan tangan malas dan isyarat tangan masuk ke mulut yang berarti "makan", suamiku merogoh saku celana. Kulihat lembaran uang berwana coklat hendak Ia serahkan, tapi sedetik kemudian menggantinya de...

HADIAH UNTUK RESTU

Waktu salat tarawih telah selesai, jamaah pun kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Atau mungkin melanjutkan ibadahnya. Sementara aku masih berusaha menidurkan bayiku dengan menyusuinya. Biarlah, salatku sedikit terlambat dibanding yang lain. Aku pun lebih memilih salat di rumah demi kekhusyukan. Dari rumah aku bisa mendengar suara tilawah Al Quran dari pengeras suara masjid. Suara yang tidak terlalu merdu, namun enak didengar. "Assalamu'alaikum," terdengar salam dari suamiku memasuki rumah. "Wa'alaikumussalam wa rahmatullah," jawabku menyambutnya "kok lama Bi sampai rumah?" lanjutku kemudian. "Iya, pengin berlama-lama di masjid dulu." "Oh, begitu. Yang sedang tilawah itu siapa, Bi?" tanyaku lagi. "Restu, anaknya pak Tono," balas suamiku, "sendirian dia". "Loh nggak ada yang lain?" ucapku agak heran. Suamiku pun melanjutkan, bahwa memang tidak ada yang tersisa di masjid kecuali ...