Postingan

Waktu Terbuang Karena Aplikasi

Gambar
Foto : Pixabay Ponsel pintar dengan banyak ragam aplikasi memang menjadi satu benda yang paling disukai setiap orang. Bukan hanya disukai, namun juga dicintai. Satu benda yang orang tidak akan pernah lepas darinya. Tidak ada waktu semenit pun yang terlewati tanpa menggenggamnya, atau sekadar menengoknya.  Era digital yang kita alami sekarang memang tak mungkin lepas dari ponsel pintar. Suatu kebutuhan memang akan lebih mudah jika dibantu dengan aplikasi di ponsel pintar. Ketika kita butuh belanja kebutuhan, tinggal klik saja aplikasi toko online. Ketika kita butuh kemudahan dalam transaksi digital, aplikasi mobile banking atau aplikasi pembayaran lain, dengan mudah dapat membantu. Ketika kita butuh hiburan untuk melihat video, ragam aplikasi menyuguhkan tayangan yang sukses bisa membuat kita tertawa. Ribuan aplikasi bebas kita pilah-pilih untuk kita pasang di perangkat ponsel.  Seperti halnya banyak hal di dunia ini, aplikasi yang ada di ponsel kita pun memiliki dua sisi. Sepe...

Puasa Pertama Hanan

Puasa Pertama Hanan Ada saatnya anak bisa, ternyata memang berlaku untuk semua hal dalam tumbuh kembang seorang anak. Tidak hanya kemampuan fisik motorik dan kemampuan akademik seperti membaca, menulis, dan kemampuan lain, tenryata ada saatnya anak bisa pun berlaku untuk untuk puasa.  Ya, bulan Ramadan ini adalah puasa pertama bagi Hanan. Senang sekali ketika dia bisa menjalankan puasa satu hari full tanpa latihan setengah hari terlebih dahulu. Padahal, tahun lalu dia sama sekali tidak ikut puasa. Mungkin, belum tahu juga apa itu puasa, walaupun melihat kami orang tuanya menjalankan ritual di bulan puasa seperti buka dan salat tarawih. Alhamdulillah, tahun ini berbekal sounding beberapa kali menjelang Ramadan, dia bisa ikut puasa bersama kami.  Kemampuan Hanan berpuasa satu hari full pastinya sesuai dengan kemauannya sendiri. Tanpa dipaksa harus puasa, ternyata dia menjalani puasa ini dengan normal. Maksudnya tanpa lemas dan malas-malasan dalam beraktivitas. Kadang, aku sendir...

SAHABAT SURGA

Gambar
SAHABAT SURGA Foto : Pixabay Teringat sangat pertama kali jumpa. Kau begitu bersahaja dengan balutan gamis syar'i berwarna maroon dan hijab lebar menutup dada. Auramu begitu sejuk, kalem,  terpancar sosok penyayang dari sorot matamu. Pembawaanmu yang santai serta tutur katamu yang lirih, menandakan kau seorang yang lembut hatinya.  Di sebuah kajian islam, kali pertama kita bertemu. Rupanya kita sama-sama sedang mencari oase di tengah gersangnya iman. Aku tahu itu, karena  setelah berbasa-basi denganmu, ternyata kita memiliki kesamaan tujuan untuk datang ke taman-taman surga.   Kala itu aku terpana, melihatmu sesenggukan saat melantunkan ayat suci Alquran. Begitu dalamnya pengahayatanmu kepada kalam-Nya. Ya, masing-masing dari yang hadir di majelis ilmu itu memang mendapat giliran membaca barang beberapa ayat Alquran. Sungguh, bukan sekadar membaca seperti yang aku lakukan, namun kau menunjukkan ekspresi lain. Tubuhmu bergetar, diiringi lelehan air mata yang tak berh...

KECIL-KECIL KOK HUTANG? (MELUPAKAN HUTANG)

Gambar
Foto : Pixabay Suatu pagi datang sekelompok anak  hendak membeli alat-alat sekolah di toko kecil rumah kami. Ada yang membeli pensil, buku, penggaris, hingga memfotokopi akta kelahiran guna keperluan sekolah. Satu per satu dari mereka aku layani sesuai urutan kedatangannya dan urutan mereka bilang apa yang dibutuhkan. Hingga tiba giliran satu anak yang sebut saja namanya A. A ternyata tidak membawa cukup uang untuk membayar apa yang dibelinya yaitu seharga enam ribu rupiah. Dia hanya membawa dua ribu rupiah.  Tidak seperti kebanyakan anak lain yang merasa sungkan jika uang mereka kurang saat membeli, A ini justru dengan nada cuek dan tanpa gestur tubuh sopan santun berucap bahwa uangnya kurang.  "Duitnya kurang, nanti kurangannya." Cepat dan cuek, begitu dia berucap.  Aku hanya diam dan melanjutkan melayani anak lain. Dalam hati aku heran dengan sikapnya, tapi setelah diingat-ingat, ternyata dia dari keluarga yang "seperti itu". Ah, sudahlah, pasti ujung-ujungnya lu...

BERBAGI WARISAN

Gambar
Foto : Pixabay (Cerpen tema Keluarga)  "Gimana, Mas? Kamu setuju kan?"  Aku melirik ke arah Bapak demi mendengar ucapan dari Tante Mirna. Terlihat pria bergaris-garis halus di kulit wajahnya itu hanya diam. Sedetik kemudian dia mengangguk  mengiyakan.  Kuhela napas perlahan. Sikap Bapak sudah bisa ditebak. Sudah pasti dia akan menyetujui apa yang diucapkan adik bungsunya itu. Sekalipun permintaan Tante Mirna terkesan memaksa dan hanya dari salah satu pihak. Sebagai kakak tertua, Bapak tidak akan membuat masalah menjadi panjang demi ketenteraman di dalam keluarga.  "Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu, ya." Tante Mirna melangkah ke luar, pulang menuju rumahnya yang  hanya berjarak beberapa meter dari rumah kami. Beberapa hari ini terjadi percakapan serius di antara Bapak dan Tante Mirna. Pasalnya, tanah warisan Mbah Uti --ibu dari Bapak-- telah laku terjual. Sebagai anak, wajar bagi mereka untuk membagi hasil dari penjualan tanah itu. Tante Mirna yang anak ...

Ipsach, Desa Tenang dan Hi-Tech di Swiss

Gambar
Tugas Reading Challange ODOP pekan ke tiga adalah membaca buku bertema travelling, lalu menuliskan review salah satu destinasi wisata yang ada di buku tersebut. Wah, tantangan menantang, karena di lemari buku yang kupunya tidak ada buku bertema itu. Alhamdulillah salah satu teman di grup RCO berbaik hati untuk berbagi ebook. Ebook yang diberikan berjudul Berjalan di Atas Cahaya, yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais serta dua penulis kontributor lain.  Ebook Berjalan di Atas Cahaya Buku dengan jumlah 210 halaman itu berisi tentang perjalanan Hanum sebagian reporter TV untuk meliput kegiatan muslim Eropa di bulan Ramadhan. Sebenarnya buku tersebut lebih mengedepankan sisi spiritual atas kejadian-kejadian yang dialaminya. Hanum bercerita bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya yang ia sebut sebagai cahaya. Oleh karenanya, buku tersebut berjudul Berjalan di Atas Cahaya.  Selain bercerita tentang orang-orang luar biasa yang ditemuinya, Hanum juga melengkapi dengan ...

PUISI

ZAMAN EDAN Ketika nafsu setan telah dituruti Lupa sudah ikatan janji suci Kenikmatan semu bernama birahi Bersatu padu tenggelamkan nurani Ketika  syahwat menguasai jiwa Tak peduli besarnya dosa Sekumpulan anak adam asyik berpesta pora Tak tahu lagi di mana Tuhan berada Ketika harta tak lagi berguna Jiwa-jiwa sakit bergelimang dunia Bergumul liar berpuas rasa Tak sadar, iblis tengah tertawa Edan, sungguh zaman edan Surga dunia berselimut kemaksiatan Tak jadi soal berzina di jalan Aduhai, kemaksiatan begitu menawan Edan, sungguh edan Manusia-manusia berhati setan Berbangga berlomba menuhankan kepuasan Mereka lalai akan kebinasaan Oleh : Anisa Sustianing Pemalang, 16 Maret 2021 *** Sebuah puisi untuk memenuhi tugas ke dua Reading Challange Odop 9. Puisi tersebut terinspirasi dari buku bertema sosial yang menjadi syarat agat bisa lulus di pekan ke dua RCO ini. Buku yang aku pilih berjudul "20 Ciri Zaman Edan dan 20 Langkah Menghadapinya". Sebuah buku yang berisi atau menggambarka...