Jumat, 26 Maret 2021

Ipsach, Desa Tenang dan Hi-Tech di Swiss

Tugas Reading Challange ODOP pekan ke tiga adalah membaca buku bertema travelling, lalu menuliskan review salah satu destinasi wisata yang ada di buku tersebut. Wah, tantangan menantang, karena di lemari buku yang kupunya tidak ada buku bertema itu. Alhamdulillah salah satu teman di grup RCO berbaik hati untuk berbagi ebook. Ebook yang diberikan berjudul Berjalan di Atas Cahaya, yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais serta dua penulis kontributor lain. 

Ebook Berjalan di Atas Cahaya



Buku dengan jumlah 210 halaman itu berisi tentang perjalanan Hanum sebagian reporter TV untuk meliput kegiatan muslim Eropa di bulan Ramadhan. Sebenarnya buku tersebut lebih mengedepankan sisi spiritual atas kejadian-kejadian yang dialaminya. Hanum bercerita bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya yang ia sebut sebagai cahaya. Oleh karenanya, buku tersebut berjudul Berjalan di Atas Cahaya. 

Selain bercerita tentang orang-orang luar biasa yang ditemuinya, Hanum juga melengkapi dengan narasi tentang tempat-tempat yang didatangi Hanum saat di Eropa. Banyak tempat yang didatangi oleh Hanum saat meliput acara TV untuk program Ramadhan itu, di antaranya Swiss, Austria, dan Jerman dengan narasi yang menarik hati. Kita seakan berada di tempat tersebut saat membacanya. Penulis kontributor lain pun tak kalah apik menarasikan tempat yang mereka berada dalam ceritanya, yaitu Rusia dan Spanyol. Ah iya, di bagian epilog pun Hanum bercerita saat menunaikan haji ke Mekkah berangkat dari bumi Eropa. 

Kalau ditanya tempat mana yang sangat ingin  didatangi dalam buku tersebut, tentu saja aku ingin pergi ke Mekkah. Tidak ada umat islam yang tak ingin pergi ke sana. Rasanya hanya satu tempat itu yang paling istimewa di dunia. Namun, untuk tantangan RCO kali ini, aku tidak memilih Mekkah sebagai destinasi wisata. Karena itu tadi, ke Mekkah bukan sekadar perjalanan wisata, namun perjalan ruhani yang sangat istimewa. 

Desa Ipsach
Sumber : Google


So, di tantangan RCO kali ini, aku memilih Desa Ipsach, Biel, di Swiss sebagai salah satu tempat yang ingin didatangi. Dalam buku Berjalan di Atas Cahya ini, Hanum menarasikan Desa Ipsach sebagai desa yang sepi dengan landskap yang menawan. Didominasi dengan warna hijau rerumputan khas pedesaan di Eropa dan birunya langit yang cerah. Meskipun sebuah desa, Ipsach memiliki teknologi yang tinggi, dengan akses jalan yang  mudah sampai di depan pintu rumah warga, hingga kereta antar desa pun menggunakan sistem otomatis bahkan urusan tiketnya.

Peta Ipsach
Sumber : Google



Ipsach adalah sebuah kotamadya di distrik administratif Biel / Bienne di kanton Bern di Swiss. Ipsach memiliki luas 1,9 km2 (0,73 mil persegi). Pada tahun 2012, 45,0% digunakan untuk tujuan pertanian, sedangkan  3,7% adalah hutan. Dari sisa tanah, yaitu 50,3% adalah pemukiman (bangunan atau jalan) dan 0,5% adalah tanah tidak produktif. 
Pada tahun yang sama, bangunan industri mencakup 2,6% dari total luas sementara perumahan dan bangunan mencapai 30,9% dan infrastruktur transportasi mencapai 8,9%. sementara taman, sabuk hijau, dan lapangan olahraga mencapai 6,8%. Di luar kawasan hutan, seluruh kawasan hutan tertutup oleh hutan lebat. Dari lahan pertanian, 37,7% digunakan untuk bercocok tanam dan 6,3% digunakan untuk penggembalaan. 

Sumber : Google

Kunjungan Hanum ke Desa Ipsach adalah dalam rangka menemui orang Indonesia yang tinggal di sana bernama Bunda Ikoy. Bunda Ikoy seorang Aceh yang sudah lama tinggal di Swiss dan bekerja di pabrik jam tangan kelas dunia di Swiss. Mengutip salah satu narasi di buku Berjalan di Atas Cahaya, siapa sangka industri jam tangan kelas wahid di dunia berasal dari desa tenang bernama Ipsach. Sungguh perjalanan yang sangat menginspirasi dari seorang Hanum Rais. 

Screenshot dari ebook

Foto Ipsach
Screenshot dari ebook


Sumber : Google









Sumber : Google









Wah, rasanya ingin sekali bisa berkunjung ke Desa Ipsach setelah membaca buku ini. Sebuah desa yang hijau, sepi, damai, dan tenang mungkin bisa menjadi penggambaran dari Ipsach. Dan, setelah browsing foto-foto Ipsach di internet, ternyata sangat indah pemandangan yang ditawarkan. Jika suatu saat bisa pergi ke sana, pasti orang yang akan aku ajak, tak lain adalah suami. Ya, sekalian aja tinggal di sana, hihi .... Ini mode ngayal. Bagaimana pun rumah yang sekarang sudah sangat membahagiakan. Uhuk! 


#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallangeOdop

Selasa, 16 Maret 2021

PUISI

ZAMAN EDAN

Ketika nafsu setan telah dituruti
Lupa sudah ikatan janji suci
Kenikmatan semu bernama birahi
Bersatu padu tenggelamkan nurani

Ketika  syahwat menguasai jiwa
Tak peduli besarnya dosa
Sekumpulan anak adam asyik berpesta pora
Tak tahu lagi di mana Tuhan berada

Ketika harta tak lagi berguna
Jiwa-jiwa sakit bergelimang dunia
Bergumul liar berpuas rasa
Tak sadar, iblis tengah tertawa

Edan, sungguh zaman edan
Surga dunia berselimut kemaksiatan
Tak jadi soal berzina di jalan
Aduhai, kemaksiatan begitu menawan

Edan, sungguh edan
Manusia-manusia berhati setan
Berbangga berlomba menuhankan kepuasan
Mereka lalai akan kebinasaan

Oleh : Anisa Sustianing
Pemalang, 16 Maret 2021

***

Sebuah puisi untuk memenuhi tugas ke dua Reading Challange Odop 9. Puisi tersebut terinspirasi dari buku bertema sosial yang menjadi syarat agat bisa lulus di pekan ke dua RCO ini. Buku yang aku pilih berjudul "20 Ciri Zaman Edan dan 20 Langkah Menghadapinya". Sebuah buku yang berisi atau menggambarkan tentang beberapa kondisi yang menjadi ciri akhir zaman. Kerusakan moral di masyarakat, banyaknya huru-hara yang terjadi, serta kondisi "mengerikan" lain yang patut disebut ciri-ciri zaman edan. 

Dalam salah satu bab di buku tersebut disebutkan bahwa ciri zaman edan adalah hiburan maksiat yang merajela dan perzinaan di mana-mana. Sebuah kondisi yang sesuai dengan Hadits Rasul, 
Dari Abu Hurairah, ujarnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Tuhan yang menggenggam diriku, umat ini tidak akan binasa sampai kelak terjadi seorang laki-laki mendatangi seorang perempuan, lalu menidurinya di jalanan, sedangkan orang-orang yang baik di antara mereka pada saat itu berkata: 'Alangkah baiknya saya bersembunyi di balik pagar'." (HR. Abu Ya'la) 

Na'uzubillahiminzalik, sungguh kondisi masyarakat yang sangat rusak. Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan-Nya dan meneguhkan iman dan islam kita hingga akhir hayat. Aamiin. 

#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallangeODOP9








Kamis, 26 November 2020

BERMAIN SEPEDA


Hari ini aku berencana memberikan permainan menggunting kepada Hanan dan Nada. Menggunting bentuk apa saja dari kertas lipat. Seperti biasa, Hanan sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan duduk tenang, berkaitan dengan kertas, pulpen, spidol, dan alat-alat lain. Hanya Nada yang menunjukkan ketertarikan dengan semua alat yang sudah disiapkan. 

Hanan justru hari ini lebih sebagai bermain sepeda. Tak terhitung berapa kali dia berputar-berputar di luar dan di dalam rumah. Ya sudahlah lah, terserah dia saja. Lagi pula bermain sepeda pun pasti ada manfaatnya yang tidak kalah berguna dari belajar dengan alat tulis seperti itu. 

Saat bermain sepeda, Hanan berimajinasi menjadi Pemimpin Cross. 
"Mi, Hanan jadi Pemimpin Cross," ucapnya. 
Disiapkannya peralatan yang mungkin bagi dia sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Helm, sepatu boot, baju , dan celana panjang, --padahal dia sudah memakai baju sebelumnya, jadi double bajunya--, bahkan sepedanya dia pasang benda agar saat dikayuh berbunyi seperti motor cross. 

Awalnya dia kesulitan memasang benda itu, namun aku biarkan saja sesuai keinginannya. Hingga akhirnya dia menemukan cara lain yaitu menekan bagian belakang dudukan sepedanya sehingga bagian sepeda bagian belakang menyentuh ban dan menimbulkan bunyi yang diinginkannya. 

"Wah, hebat jadi pemimpin cross, Ummi jadi apa dong sama Dede?" sahutku. 

"Ummi jadi Bu Guru, Dede jadi penulis," jawabnya. Mungkin karena melihat adiknya masih asyik dengan alat tulis yang aku sediakan tadi. 

Wah, jawaban yang cukup membuatku surprise. Saat itulah aku coba menyisipkan adab kepada Allah dengan membimbingnya membaca doa. 

"Hanan suka ya sama ya sepeda barunya?  Hanan harus bersyukur dan baca doa." 

Aku pun membimbingnya membaca doa, "Alhamdulillahi bini'mati tathimushsholihaat". 

Berulang-ulang kami bertiga membaca ada itu. Jadilah, sambil bermain sepeda bagi Hanan dan mencoret-coret bagi Nada, sambil mereka menambah hafalan doa. 

Yakinlah bahwa setiap anak memiliki minat dan keinginan sendiri. Begitu pula saat belajar. Ketika aku meminta atau memaksa anak untuk mau berkegiatan sesuai rencana, sering kali gagal dan berakhir drama. Terbukti saat dibiarkan sesuai keinginan  mereka, justru di sore harinya mereka --terutama Hanan--, justru yang meminta untuk bermain kertas dan pensil warna. 

#harike1
#tantangan15hari 
#zona4gayabelajarstimulasikreativitas
#pantaibentangpetualang 
#institutibuprofesional 
#petualangbahagia

Jumat, 04 September 2020

BOLEH PUKUL, JANGAN KENA

Waktu Hanan masih usia 3 tahunan,  dia suka sekali memukul. Energinya seakan tidak ada habisnya untuk loncat ke sana ke mari sambil memeragakan adegan berkelahi.  Adiknya yang kala itu masih bayi sering kena sasaran,  begitu juga saya.  Seringkali waktu berbaring mengASIhi adiknya, dia memeragakan adegan berkelahi, memukul,  dan melompati saya. Setelah saya ambil kesimpulan, sepertinya dia bertingkah seperti itu karena melihat film superhero seperti ultraman, robot-robotan,  dan sejenisnya.

Mulai saat itu,  saya memutuskan untuk membatasi aksesnya melihat tayangan seperti itu di tivi.  Berbagai cara saya lakukan seperti mencabut diam-diam stop kontak tivi,  mematikan kilometer listrik, menghilangkan chanel tivi, dan lain-lain.  Jika langsung dimatikan tivinya,  patati dia akan menangis. Sewaktu belum mengerti,  Alhamdulillah cara ini berhasil.  Namun,  ketika dia sudah lebih besar, dia pun bisa tahu kalau saya yang mencabut kabel dan mematikan kilometer listrik. Akhirmya saya pun pasrah ketika dia tetap saja menonton tayangan itu.

Hingga suatu saat,  tivi kami pun rusak. Saya senang sekali karena lama tidak melihat tivi dan Hanan terbebas dari melihat tayangan itu. Hanan pun mulai sedikit mereda, tidak lagi suka memukul. 

Masalah kembali muncul,  ketika beberapa lama kemudian dia seringkali main ke rumah saudara untuk menonton tivi. Tayangannya apalagi kalau bukan seperti itu lagi.  Akhirnya dari pada tanpa pengawasan berlama-lama menonton tivi di rumah saudara,  kami putuskan untuk membeli tivi baru.  

Hingga kini,  Hanan pun masih suka melihat tayangan ultraman dan sejenisnya.  Terladang saya biarkan,  namun tetap ambil disounding,  bahwa Hanan boleh lihat ultraman asalkan tidak ikut-ikutan. Namanya anak-anak, mungkin dia belum begitu paham. Tetap saja hal itu seperti kesenangan baginya. 

Terkadang pun Hanan masih suka memukul, jika keinginannya tidak dipenuhi. 

Seperti tadi pagi, saat saya tidak segera memenuhi keinginannya untuk membeli jajan di warung, dia memukul saya menggunakan tangan dan kakinya. 

"Hanan,  pukul-pukul seperti itu tidak bagus,  jangan dilakukan ya ..." saya memperingatkan,  "lihat nih Ummi sakit."

"Kan,  Hanan ultraman,  Ummi jadi monsternya," jawabnya santai. 

"Ultraman kan khayalan,  itu bohongan cuma di tivi."

Hanan tetap saja memukul,  Alhamdulillah saya tidak emosi dibuatnya. Dari pagi saya sudah mensugesti diri agar tidak terpancing emosi.  Ya,  karena dalam challange komunikasi produktif Bunda Sayang ini,  saya benar-benar ingin memperbaiki diri agar sabar menghadapi tingkah laku anak.  Apa pun itu.

Saya 'gelitikin' dia untuk pengalihan agar dia tidak memukul lagi. Terbukti dia senang menanggapinya. Semakin dia memukul semakin saya 'gelitikin' dia.  Akhirnya kami pun jadi tertawa-tawa bersama.  

"Coba Ummi tanya,  tangan buat apa?  Sama kaki buat apa?" Di sela-sela kami bermain itu,  saya menanyakan kepadanya. Harapan saya agar dia menjawab seperti yang sudah saya sering sounding kepadanya,  bahwa tangan untuk makan,  salaman,  menulis, memegang sesuatu, dan lain-lain.  Bukan untuk memukul. 

"Tangan buat pukul." Aduh,  jawaban yang sungguh menguji kesabaran. Tapi sekali lagi,  saya masih santai menanggapinya. Kami masih saja bermain-main. Dia memukul, saya 'gelitikin'. 

"Ya nggak boleh,  masa buat pukul.  Tangan buat yang baik-baik dong."

Merasa apa yang diinginkan belum terpenuhi, dia pun masih beberapa kali memukul dan berteriak,  "Ummi jajan ....!"

"Ya nanti beli jajannya,  sabar dulu nggak boleh marah-marah," saya kembali mengulur waktu, "Hanan tahu kan hadits jangan marah?"

Hanan mengangguk dan kami pun bersama-sama melafalkan hadits larangan marah. Laa taghdob wa lakal jannah,  jangan marah bagimu surga. 

"Nah gitu,  jangan marah-marah lagi ya... "

Walaupun saya sudah berusaha berkata kepadanya dengan lembut,  ternyata sesekali Hanan masih memukul.  Dia masih berimajinasi bahwa dirinya ultramen dan saya harus jadi monsternya.  Ah,  iya.  Mungkin apa yang saya katakan terlalu panjang dan tidak dimengerti. 

Akhirnya saya pun mencoba menuruti apa maunya.  Saya berperan seperti sedang berkelahi dengannya.  

"Ya sudah,  Ummi jadi monster ya,  tapi Hanan jadi ultamennya kalau mukul jangan kena ya."

"Kan monster kalah, Mi, dipukul sama ultramen."

"Itu kan di tivi, bohongan.  Kalau Hanan mukul jangan kena ya, seperti ini ..." Saya pun mencontohkan gerakan memukul tanpa mengenai bagian tubuh. 

Alhamdulillah ternyata apa yang saya arahkan bisa diterima. Hanan terlihat happy bermain ultramen dan monster dengan adegan memukul tanpa mengenai bagian tubuh. 

Suatu kemajuan bagi saya,  karena biasanya saya kurang pandai mengendalikan emosi jika dia masih memukul saat sudah diberi tahu dengan lembut. Saya menyimpulkan bahwa mungkin saya memperoleh tiga bintang hari ini,  karena bisa menemukan cara agar kebiasaan memukul Hanan sedikit bisa dikurangi.  

Saya pun merasa puas,  karena saat Hanan menjaili adiknya,  saya masih bisa sabar. Stay cool. Tentunya dengan sounding,  'boleh pukul tapi jangan kena' ini. 

Namun,  ternyata setelah waktu beranjak siang,  ada suatu hal yang membuat mood saya kurang bagus.  Saat itu pula Hanan sedikit rewel meminta handphone padahal saya sedang menyelesaikan chat penting. Akhirnya insiden nada tinggi pun keluar lagi.  Hingga Hanan menangis. Menyesal sekali karena telah mencederai niat saya agar bisa bersabar melakukan komunikasi produktif dengan Hanan.  

Yah, begitulah hari ini.  Setelah menyesal,  saya meminta maaf kepadanya, memeluk,  mencium dan menggendongnya. Sedikit bersantai,  tiduran,  sambil memeluk dan menciuminya terus, suasana pun kembali reda. 

Hari ini mungkin saya belum mendapat bintang tiga seperti kepuasan di pagi hari.  Mungkin saja turun memperoleh hanya satu bintang, karena gagal dalam mengendalikan bad mood karena sesuatu hal, sehingga menjadikan anak sebagai sasaran. Namun,  saya cukup puas akan pencapaian komunikasi produktif dengan Hanan.  

Semoga esok hari akan lebih baik.  Terus belajar memperbaiki diri menjadi seorang ibu yang benar-benar penyayang. Aamiin ....

#harike-1
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Minggu, 30 Agustus 2020

SELALU MENGINGAT SEJARAH DAN HIKMAHNYA

Setiap memasuki bulan Agustus, atmosfir berbeda pasti terasa ke mana pun kita pergi. Sepanjang perjalanan, berbaris bendera merah putih dan umbul_umbul warna-warni menghiasi pinggir jalan. Belum lagi kelap-kelip lampu hias, gapura di tiap gang dengan warna khas merah putih, atau mungkin hanya hiasan sederhana dari air berwana-warni yang diisikan ke dalam plastik dan digantung di batang pohon kecil. Sungguh suasana meriah yang tidak didapati selain bulan Agustus. 

Di bulan Agustus pula, rasa nasionalisme kembali menyala dan membara dibandingkan bulan-bulan lain. Apalagi saat tanggal istimewa yaitu tanggal 17 Agustus, banyak terdengar lahu-lagu nasional diputar di beberapa tempat umum, di tayangan televisi, ataupun di perkantoran pemerintah. Ya, itu tidak lain karena bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan bagi negara Indonesia. Peristiwa bersejarah yang mengantarkan negara ini terbebas dari belengu penjajahan yang sekian lama diderita oleh rakyatnya.

Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dan didampingi oleh Muhammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi bukti telah diraihnya kemerdekaan berbangsa dari para penjajah. Melalui perjuangan panjang ratusan tahun dengan berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan oleh rakyatnya, akhirnya Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya. 

Jika kita membaca sejarah, pastilah kita merasa trenyuh sekaligus bergetar hati dengan perjuangan para pahlawan. Bagaimana mereka memiliki semangat tingggi dalam melawan penjajah. Berbagai pertempuran dengan banyak korban jiwa tentu menjadi harga mahal yang tak bisa kita balas dengan apa pun. Strategi perang, keberanian, perjuangan, kegigihan, semangat, pengorbanan, rasa cinta yang besar kepada tanah air, bergabung menjadi satu dalam jiwa mereka. Jiwa pahlawan yang begitu mulia mereka miliki untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Sungguh, tak bisa membayangkan jika hingga kini kita masih berada di masa penjajahan. 

Teringat cerita Nenek dulu, bahwa untuk menjadi “orang” jaman dahulu itu sangat mudah. Hanya bermodal keberanian, seseorang mungkin bisa jadi Jenderal. Yang terpenting adalah kemauan untuk bersama-sama berperang merlawan para penjajah. Dalam cerita Nenek, bapaknya Nenek dahulu sempat diminta agar mau menjadi tentara, namun dilarang oleh  famili lain yang sudah lebih dulu berjuang mengikuti perang. Famili tersebut berpesan sebelum wafatnya, dia melarang agar jangan sampai anak keturunannya merasakan perjuangan pedih berperang melawan penjajah dan berakhir dengan sekarat. Entahlah,cerita yang mungkin membuat miris, namun sekaligus penuh pemakluman. Bagaimana pun, berperang memang hal yang tidak menyenangkan, namun lepas tangan dari kesempatan membela negara tentunya hal yang kurang baik. Namun, begitulah jalan takdir. Kematian bisa datang dengan sebab apa pun. Walaupun  tidak mengikuti perang, nyawa pun bisa melayang sesuai kehendak Illahi.

Berbeda dengan kini, menjadi abdi negara butuh pendidikan yang tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Perubahan memang mutlak adanya, sesuai dengan perkembangan jaman dan kondisi yang dialami. Namun begitu, jiwa pahlawan harus tetap dipunyai bagi seluruh masyarakat tidak hanya oleh para prajurit bersenjata.

Belajar sejarah adalah hal yang memiliki keistiewaan tersendiri. Kita seakan dibawa ke jaman dulu melihat peristiwa demi peristiwa  yang terjadi di Indonesia ini. Bagaimana kita merasakan semangat berkobar yang dimiliki pasukan dibawah pimpinan Soetomo saat peristiwa di hotel Yamato di Surabaya. Kita pun bisa merasakan suasana genting dan menegangkannya saat Ir. Soekarno diamankan oleh para pemuda ke Rengas Dengklok hingga terjadi peristiwa proklamasi.

Selain itu, masih banyak berbagai peristiwa bersejarah yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Seperti peristiwa berdarah G 30 SPKI, peristiwa dan kejadian penting menyusul terbentuknya negara Indonesia dengan berbagai elemennya seperti Undang-Undang Dasar dan lain-lain. Hingga, peristiwa sejarah yang belum begitu lama, yaitu tragedi  kerusuhan Mei 1998 yang mengantarkan Indonesia ke era baru yaitu era reformasi.

Sejarah akan selalu ada. Bagi kita, peristiwa lampau adalah sejarah, namun bagi generasi yang akan datang, peristiwa sekarang kan menjadi sejarah. Apa pun itu, peristiwa penting baik buruk maupun baik pasti akan selalu dikenang, menjadi sejarah yang harus diambil hikmah dan pelajarannya. Karena sejarah tidak untuk dilupakan, melainkan untuk selalu kita ingat. 

Mungkin kita  mengenal istilah Jas Merah, yaitu kepanjangan dari “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, ´yang merupakan judul dari pidato Presiden pertama Indonesia. Itulah yang harus kita lakukan sebagai penerus bangsa. Selalu mengenang jasa para pahlawan dengan berjuag memajukan Indonesia dengan cara masing-masing. Semoga Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, makmur, dan sejahtera bagi seluruh warganya. Karena seperti kata Soekarno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. 

Dirgayahayu Indonesiaku.

Jumat, 21 Agustus 2020

BAHAGIA MENJALANI PERAN

Foto : Pixabay

Tak terasa, menjelang enam tahun sudah pernikahanku. Tak terasa pula telah kulalui dua peran selama ini, yaitu menjadi istri dan ibu bagi dua anak hasil pernikahnku. Ah, bukan tak terasa … tapi sangat terasa. Bagaimana pun, menjadi seorang istri apalagi seorang ibu menuntut keahlian yang lebih. Bisa dibilang, ahli segala bidang. Kalau seperti di tulisan_tulisan yang beredar, ibu itu merangkap berbagai peran. Seorang guru, tukang masak atau koki, ahli keuangan, arsitek, jasa laundry, bahkan cleaning service. Ya … walaupun itu hanya kiasan, tapi cukup menggambarkan bahwa begitu banyak tugas dan kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang ibu.

Dulu, selagi belum menikah, enak saja memikirkan nanti setelah menikah begini-begitu, gampang paling ya seperti itu kerjaan rumah tangga. Tapi nyatanya, ada saja kejadian mengejutkan yang dialami emak-emak daster sepertiku. Ada kalanya satu hari, di mana anak selalu rewel, tantrum, dan banyak maunya. Sedangkan mood kita sebagi ibu juga tidak selalu baik. Kalau sudah seperti itu, rasanya sangat ngenes menjadi ibu. Iyakah? Seperti itukah? Mungkin seperti itu tanggapan yang terlontar ketika ada kalimat ngenes menjadi seorang ibu. Tapi, yakinlah, pertanyaan itu akan terjawab jika sudah mengalaminya sendiri.

Masalah rengekan anak  hanya salah satu hal yang membuat ngenes bagi seorang ibu. Ada hal lain yang bisa membuat mood menjadi down, seperti pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya, beban ekonomi yang mungkin dialami oleh sebagian ibu, atau masalah lain seperti omomgan orang lain yang berkomentar dengan cara kita mendidik anak. Tidak heran, banyak kasus seorang ibu yang mengalami gangguan kesehatan mental. Betapa miris ketika mendengar berita seorang ibu membunuh anaknya, bunuh diri bersama anaknya, atau kasus lainnya. 

Kasus-kasus tersebut mungkin membuat sebagian kita yang mendengarnya akan menyalahkan si ibu. Betapa tidak sabarnya ibu itu, atau mungkin menganggap si ibu kurang iman sehingga melakukan hal-hal yang demikian. Tapi, bagi sebagian yang lain yang bisa berempati akan prihatin dan tidak sepenuhnya menyalahkan si ibu. Karena memang permasalahan yang dialami seorang ibu sangat kompleks. Sehingga rentan membuat kondisii kejiwaan atau kesehatan mental mudah terganggu. Masalah seperti ini kebanyakan akan dialami oleh ibu yang baru saja melahirkan, atau memiliki anak balita. Gangguan kesehatan mental seperti itu dikenal dengan sebutan baby blues atau post partum syndrome.

Baby blues biasanya dialami ibu  yang kurang mendapat perhatian oleh orang-orang di sekitarnya. Bisa juga karena komentar-komentar negativ dari orang di sekelilingnya. oleh karena itu, perlu pemahaman di kalangan masyarakat agar bisa  lebih berempati terhadap apa yang dialami seorang ibu. Terlebih bagi ibu yang belum lama menyandang status barunya.

Kembali ke cerita tentang kesibukan yang aku jalani. 

Foto : Pixabay

Ya, aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang setiap harinya berkutat dengan urusan domestik dan juga berbagai tingkah laku anak. Tak dipungkiri, kadang pun aku merasa bosan dengan rutinitas yang aku jalani. Keterbatasan mobilitas karena memiliki  anak balita membuatku sering merasa iri dengan para ibu yang dengan leluasa bisa pergi kemana mereka mau. Kadang pun terbayang kebebasan yang dulu aku lakukan sebelum menikah dan mempunyai anak. Tapi kemudian aku berpikir, bahwa inilah episode kehidupan. Ada masanya diri ini bisa bersenang-senang, tapi ada masanya pula ketika tanggung jawab dan kewajiban di atas segalanya. Akan bersama siapa anak-anak jika bukan denganku, ibunya sendiri? Kini, saatnya episode penuh warna-warni dengan tingkah laku anak yang sedang aku jalani. 

Namun begitu, dunia emak daster tidak selalunya  ngenes. Banyak pula kesenangan yang dialami ketika menjadi seorang ibu. Setelah menjadi seorang ibu, aku menjadi tahu banyak hal yang dulu tak ku ketahui. Dengan menjadi seorang ibu pula, waktu untuk belajar justru tidak ada habisnya. Bagaimana mengelola emosi kepada anak, bagaimana menghadapi anak yang sakit, bagaimana menghadapi anak yang rewel. Tentunya itu hal yang terus menerus harus dipelajari. Dan, dengan belajar, kita jadi lebih tahu bnayak hal.

Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya juga memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih mengetahui potensi apa yang kita miliki. Seperti halnya yang aku alami, waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah membuatku lebih bebas melakukan hobi yang aku sukai. Karena “keisengan” dan ketidaksengajaan di sela-sela kesibukan menajdi ibu rumah tangga, akhirnya aku menemukan sebuah komunitas kepenulisan dan bergabung dengannya. Dari perkenalan itu, aku juga semakin tahu tentang dunia literasi dengan bergabung bersama komunitas-komunitas lain. 

Hal baru yang menjadi self healing tersendiri bagiku di tengah kebosanan dan perasaan minder menjalani peran sebagi emak daster. Bosan karena rutinitas yang terkungkung hanya di rumah, minder karena ijazah yang didapat hanya tersimpan rapi di lemari. Setelah bergabung dengan komunitas literasi, aku jadi mempunyai semangat untuk lebih banyak berkarya. Dan membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak selalu tertinngal. Karena setiap orang memiliki potensi masing-masing. 

Mungkin saat ini aku memang terbatas untuk bisa berkegiatan di luar, tapi aku cukup terhibur dengan pertemanan luas di dunia maya. Dan lagi bukan sembarang teman yang aku miliki, namun banyak orang-orang hebat yang sangat mengisnpirasiku yang aku kenal di dunia mya. Tentu saja, teman di komunitas yang aku ikuti.

Kini, menjalani peran dengan bahagia sebagai ibu rumah tangga menjadi pilihanku. Terus belajar meningkatkan kualitas diri, agar mempu memberi perubahan yang baik untuk diri sendiri, suami, anak-anak, dan orang-orang di sekitarku. Aamiin, Inysaa Allah. 

Jumat, 31 Juli 2020

IBADAH QURBAN, SEBUAH UJIAN KEIKHLASAN


Hari raya Idul Adha adalah hari raya ke dua umat islam yang selalu disambut penuh rasa syukur oleh umat islam. Setelah hari raya Idul Fitri tentunya. Jika saat Idul Fitri kita memiliki ritual khas yaitu puasa 30 hari sebelumnya di bulan Ramadhan, maka saat Idul Adha pun kita memiliki ritual khas yaitu puasa hari Arafah yang hanya satu hari yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Lebih baik lagi jika dilengkapi puasa tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah. Atau bahkan puasa sunnah mutlak dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan tanggal Dzulhijjah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah)” (HR. Bukhari)

Selain ritual khusus yaitu puasa sebelum  kedua hari raya ini, ada ciri khas lain dari masing-masing hari raya. Saat dul Fitri, ciri khas makanan yang tersaji adalah ketupat dan opor ayam, sedangkan saat Idul Adha adalah makanan hasil olahan dari daging kambing atau sapi. Ya, karena saat Idul Adha umat muslim akan menyembelih sapi atau kambing sebagai ritual ibadah satu tahun sekali ini. Yaitu ibadah qurban.

Bukan, bukan hendak membahas hidangan hari raya, namun saya akan mencoba menuliskan pandangan saya tentang ibadah qurban.

Ibadah qurban sebagaimana kita ketahui, pasti akan mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Nabi Ismail. Perintah dari Allah  yang dating melalui mimpi itu, sungguh merupakan ujian keimanan bagi seorang hamba-Nya.  Bagaimana tidak, anak yang sudah lama dinantikan sebagai keturunan dan generasi penerus, justru harus dikorbankan dengan cara yang menggetarkan. Disembelih dengan tangannya sendiri. Hanya manusia pilihan yang sanggup melewati ujian keimanan itu. Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, serta Nabi Ismail lulus dari ujian tersebut karena telah patuh dengan perintah Rabbnya. 

Allah Maha Bijkasana dan Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Allah mengganjar langsung ketaatan hamba-Nya dengan mengganti Nabi Ismail menjadi seekor kambing sesaat sebelum mata pisau mengenai leher Nabi Ismail. Sungguh peristiwa yang tertulis dlam Alquran surat As Saffat Ayat 102-111 ini selalu membuat hati bergetar saat membayangkannya. Bayangkan keikhlasan dan ketegaran  seorang ayah menyembelih anaknya sendiri. Bayangkan keikhlasan dan  ketegaran seorang istri sekaligus ibu merelakan anak darah dagingnya sendiri untuk disembelih sebagai wujud ketaatan kepada suami. 

Andai kau seorang Hajar, sanggupkah kau melakukannya? Sebuah pertanyaan yang mungkin serratus persen akan dijawab “tidak” oleh ibu-ibu kebanyakan. Melihat anak sakit pun rasanya tidak tega, bagaimana jika harus disembelih? Maasyaa Allah betapa tauhid kita sangat jauh berbeda dengan ibunda Hajar.

 Jika Nabi Ibrahim dan Hajar diuji dengan rasa sayang terhadap anaknya, maka kita diuji dengan rasa sayang terhadap harta. Sekarang kita hanya diperintahkan untuk mengorbankan sebagian harta kita, bukan mengorbankan anak. Sekarang kita hanya perlu melakukan ibadah qurban sebagai refleksi dari peristiwa “penyembelihan” Nabi Ismail. 

Ibadah qurban adalah ibadah yang menuntut keikhlasan dan kemauan serta niat kuat untuk melakukannya. Bukan masalah seberapa bnayak harta yang dipunyai untuk membeli hewan qurban, namun lebih kepada niat, usaha, dan doa yang dilakukan. Banyak di antara orang kaya yang masih enggan untuk melakukakan ibadah qurban padahal mereka mampu. Sebaliknya banyak dari kalangan orang kurang mampu justru bisa menunaikan ibadah harta ini, karena dilatarbelakangi oleh niat ibadah yang tulus. Allah pasti akan menolong hamba-Nya yang menolong agamanya.

Sungguh ibadah qurban adalah ujian keikhlasan bagi manusia. Apakah manusia akan dengan lantang berucap ‘Aku adalah Ismail” yang siap mengorbankan dirinya di jalan Allah. Atau malah menggenggam erat hartanya demi kenkimatan duniawi. Bagi orang-orang beriman tentunya akan berusaha meneladani keikhlasan Nabi Ismail untuk berkorban. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang diberi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakannya. Insyaa Allah Aamin.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha. Semoga Allah meridhoi niat dan usaha kita untuk senantiasa meneladani Sunnah Nabi dan keikhlasan keluarga Ibrahim dalam  melaksanakan ibadah qurban. Barakallah untuk semua sohibul qurban di mana pun berada. 

Mendengarkan gema takbir di dinginnya malam,  10 Dzulhijjah 1441 H.

Ipsach, Desa Tenang dan Hi-Tech di Swiss

Tugas Reading Challange ODOP pekan ke tiga adalah membaca buku bertema travelling, lalu menuliskan review salah satu destinasi wisata yang a...