Jumat, 04 September 2020

BOLEH PUKUL, JANGAN KENA

Waktu Hanan masih usia 3 tahunan,  dia suka sekali memukul. Energinya seakan tidak ada habisnya untuk loncat ke sana ke mari sambil memeragakan adegan berkelahi.  Adiknya yang kala itu masih bayi sering kena sasaran,  begitu juga saya.  Seringkali waktu berbaring mengASIhi adiknya, dia memeragakan adegan berkelahi, memukul,  dan melompati saya. Setelah saya ambil kesimpulan, sepertinya dia bertingkah seperti itu karena melihat film superhero seperti ultraman, robot-robotan,  dan sejenisnya.

Mulai saat itu,  saya memutuskan untuk membatasi aksesnya melihat tayangan seperti itu di tivi.  Berbagai cara saya lakukan seperti mencabut diam-diam stop kontak tivi,  mematikan kilometer listrik, menghilangkan chanel tivi, dan lain-lain.  Jika langsung dimatikan tivinya,  patati dia akan menangis. Sewaktu belum mengerti,  Alhamdulillah cara ini berhasil.  Namun,  ketika dia sudah lebih besar, dia pun bisa tahu kalau saya yang mencabut kabel dan mematikan kilometer listrik. Akhirmya saya pun pasrah ketika dia tetap saja menonton tayangan itu.

Hingga suatu saat,  tivi kami pun rusak. Saya senang sekali karena lama tidak melihat tivi dan Hanan terbebas dari melihat tayangan itu. Hanan pun mulai sedikit mereda, tidak lagi suka memukul. 

Masalah kembali muncul,  ketika beberapa lama kemudian dia seringkali main ke rumah saudara untuk menonton tivi. Tayangannya apalagi kalau bukan seperti itu lagi.  Akhirnya dari pada tanpa pengawasan berlama-lama menonton tivi di rumah saudara,  kami putuskan untuk membeli tivi baru.  

Hingga kini,  Hanan pun masih suka melihat tayangan ultraman dan sejenisnya.  Terladang saya biarkan,  namun tetap ambil disounding,  bahwa Hanan boleh lihat ultraman asalkan tidak ikut-ikutan. Namanya anak-anak, mungkin dia belum begitu paham. Tetap saja hal itu seperti kesenangan baginya. 

Terkadang pun Hanan masih suka memukul, jika keinginannya tidak dipenuhi. 

Seperti tadi pagi, saat saya tidak segera memenuhi keinginannya untuk membeli jajan di warung, dia memukul saya menggunakan tangan dan kakinya. 

"Hanan,  pukul-pukul seperti itu tidak bagus,  jangan dilakukan ya ..." saya memperingatkan,  "lihat nih Ummi sakit."

"Kan,  Hanan ultraman,  Ummi jadi monsternya," jawabnya santai. 

"Ultraman kan khayalan,  itu bohongan cuma di tivi."

Hanan tetap saja memukul,  Alhamdulillah saya tidak emosi dibuatnya. Dari pagi saya sudah mensugesti diri agar tidak terpancing emosi.  Ya,  karena dalam challange komunikasi produktif Bunda Sayang ini,  saya benar-benar ingin memperbaiki diri agar sabar menghadapi tingkah laku anak.  Apa pun itu.

Saya 'gelitikin' dia untuk pengalihan agar dia tidak memukul lagi. Terbukti dia senang menanggapinya. Semakin dia memukul semakin saya 'gelitikin' dia.  Akhirnya kami pun jadi tertawa-tawa bersama.  

"Coba Ummi tanya,  tangan buat apa?  Sama kaki buat apa?" Di sela-sela kami bermain itu,  saya menanyakan kepadanya. Harapan saya agar dia menjawab seperti yang sudah saya sering sounding kepadanya,  bahwa tangan untuk makan,  salaman,  menulis, memegang sesuatu, dan lain-lain.  Bukan untuk memukul. 

"Tangan buat pukul." Aduh,  jawaban yang sungguh menguji kesabaran. Tapi sekali lagi,  saya masih santai menanggapinya. Kami masih saja bermain-main. Dia memukul, saya 'gelitikin'. 

"Ya nggak boleh,  masa buat pukul.  Tangan buat yang baik-baik dong."

Merasa apa yang diinginkan belum terpenuhi, dia pun masih beberapa kali memukul dan berteriak,  "Ummi jajan ....!"

"Ya nanti beli jajannya,  sabar dulu nggak boleh marah-marah," saya kembali mengulur waktu, "Hanan tahu kan hadits jangan marah?"

Hanan mengangguk dan kami pun bersama-sama melafalkan hadits larangan marah. Laa taghdob wa lakal jannah,  jangan marah bagimu surga. 

"Nah gitu,  jangan marah-marah lagi ya... "

Walaupun saya sudah berusaha berkata kepadanya dengan lembut,  ternyata sesekali Hanan masih memukul.  Dia masih berimajinasi bahwa dirinya ultramen dan saya harus jadi monsternya.  Ah,  iya.  Mungkin apa yang saya katakan terlalu panjang dan tidak dimengerti. 

Akhirnya saya pun mencoba menuruti apa maunya.  Saya berperan seperti sedang berkelahi dengannya.  

"Ya sudah,  Ummi jadi monster ya,  tapi Hanan jadi ultamennya kalau mukul jangan kena ya."

"Kan monster kalah, Mi, dipukul sama ultramen."

"Itu kan di tivi, bohongan.  Kalau Hanan mukul jangan kena ya, seperti ini ..." Saya pun mencontohkan gerakan memukul tanpa mengenai bagian tubuh. 

Alhamdulillah ternyata apa yang saya arahkan bisa diterima. Hanan terlihat happy bermain ultramen dan monster dengan adegan memukul tanpa mengenai bagian tubuh. 

Suatu kemajuan bagi saya,  karena biasanya saya kurang pandai mengendalikan emosi jika dia masih memukul saat sudah diberi tahu dengan lembut. Saya menyimpulkan bahwa mungkin saya memperoleh tiga bintang hari ini,  karena bisa menemukan cara agar kebiasaan memukul Hanan sedikit bisa dikurangi.  

Saya pun merasa puas,  karena saat Hanan menjaili adiknya,  saya masih bisa sabar. Stay cool. Tentunya dengan sounding,  'boleh pukul tapi jangan kena' ini. 

Namun,  ternyata setelah waktu beranjak siang,  ada suatu hal yang membuat mood saya kurang bagus.  Saat itu pula Hanan sedikit rewel meminta handphone padahal saya sedang menyelesaikan chat penting. Akhirnya insiden nada tinggi pun keluar lagi.  Hingga Hanan menangis. Menyesal sekali karena telah mencederai niat saya agar bisa bersabar melakukan komunikasi produktif dengan Hanan.  

Yah, begitulah hari ini.  Setelah menyesal,  saya meminta maaf kepadanya, memeluk,  mencium dan menggendongnya. Sedikit bersantai,  tiduran,  sambil memeluk dan menciuminya terus, suasana pun kembali reda. 

Hari ini mungkin saya belum mendapat bintang tiga seperti kepuasan di pagi hari.  Mungkin saja turun memperoleh hanya satu bintang, karena gagal dalam mengendalikan bad mood karena sesuatu hal, sehingga menjadikan anak sebagai sasaran. Namun,  saya cukup puas akan pencapaian komunikasi produktif dengan Hanan.  

Semoga esok hari akan lebih baik.  Terus belajar memperbaiki diri menjadi seorang ibu yang benar-benar penyayang. Aamiin ....

#harike-1
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Minggu, 30 Agustus 2020

SELALU MENGINGAT SEJARAH DAN HIKMAHNYA

Setiap memasuki bulan Agustus, atmosfir berbeda pasti terasa ke mana pun kita pergi. Sepanjang perjalanan, berbaris bendera merah putih dan umbul_umbul warna-warni menghiasi pinggir jalan. Belum lagi kelap-kelip lampu hias, gapura di tiap gang dengan warna khas merah putih, atau mungkin hanya hiasan sederhana dari air berwana-warni yang diisikan ke dalam plastik dan digantung di batang pohon kecil. Sungguh suasana meriah yang tidak didapati selain bulan Agustus. 

Di bulan Agustus pula, rasa nasionalisme kembali menyala dan membara dibandingkan bulan-bulan lain. Apalagi saat tanggal istimewa yaitu tanggal 17 Agustus, banyak terdengar lahu-lagu nasional diputar di beberapa tempat umum, di tayangan televisi, ataupun di perkantoran pemerintah. Ya, itu tidak lain karena bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan bagi negara Indonesia. Peristiwa bersejarah yang mengantarkan negara ini terbebas dari belengu penjajahan yang sekian lama diderita oleh rakyatnya.

Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dan didampingi oleh Muhammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi bukti telah diraihnya kemerdekaan berbangsa dari para penjajah. Melalui perjuangan panjang ratusan tahun dengan berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan oleh rakyatnya, akhirnya Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya. 

Jika kita membaca sejarah, pastilah kita merasa trenyuh sekaligus bergetar hati dengan perjuangan para pahlawan. Bagaimana mereka memiliki semangat tingggi dalam melawan penjajah. Berbagai pertempuran dengan banyak korban jiwa tentu menjadi harga mahal yang tak bisa kita balas dengan apa pun. Strategi perang, keberanian, perjuangan, kegigihan, semangat, pengorbanan, rasa cinta yang besar kepada tanah air, bergabung menjadi satu dalam jiwa mereka. Jiwa pahlawan yang begitu mulia mereka miliki untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Sungguh, tak bisa membayangkan jika hingga kini kita masih berada di masa penjajahan. 

Teringat cerita Nenek dulu, bahwa untuk menjadi “orang” jaman dahulu itu sangat mudah. Hanya bermodal keberanian, seseorang mungkin bisa jadi Jenderal. Yang terpenting adalah kemauan untuk bersama-sama berperang merlawan para penjajah. Dalam cerita Nenek, bapaknya Nenek dahulu sempat diminta agar mau menjadi tentara, namun dilarang oleh  famili lain yang sudah lebih dulu berjuang mengikuti perang. Famili tersebut berpesan sebelum wafatnya, dia melarang agar jangan sampai anak keturunannya merasakan perjuangan pedih berperang melawan penjajah dan berakhir dengan sekarat. Entahlah,cerita yang mungkin membuat miris, namun sekaligus penuh pemakluman. Bagaimana pun, berperang memang hal yang tidak menyenangkan, namun lepas tangan dari kesempatan membela negara tentunya hal yang kurang baik. Namun, begitulah jalan takdir. Kematian bisa datang dengan sebab apa pun. Walaupun  tidak mengikuti perang, nyawa pun bisa melayang sesuai kehendak Illahi.

Berbeda dengan kini, menjadi abdi negara butuh pendidikan yang tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Perubahan memang mutlak adanya, sesuai dengan perkembangan jaman dan kondisi yang dialami. Namun begitu, jiwa pahlawan harus tetap dipunyai bagi seluruh masyarakat tidak hanya oleh para prajurit bersenjata.

Belajar sejarah adalah hal yang memiliki keistiewaan tersendiri. Kita seakan dibawa ke jaman dulu melihat peristiwa demi peristiwa  yang terjadi di Indonesia ini. Bagaimana kita merasakan semangat berkobar yang dimiliki pasukan dibawah pimpinan Soetomo saat peristiwa di hotel Yamato di Surabaya. Kita pun bisa merasakan suasana genting dan menegangkannya saat Ir. Soekarno diamankan oleh para pemuda ke Rengas Dengklok hingga terjadi peristiwa proklamasi.

Selain itu, masih banyak berbagai peristiwa bersejarah yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Seperti peristiwa berdarah G 30 SPKI, peristiwa dan kejadian penting menyusul terbentuknya negara Indonesia dengan berbagai elemennya seperti Undang-Undang Dasar dan lain-lain. Hingga, peristiwa sejarah yang belum begitu lama, yaitu tragedi  kerusuhan Mei 1998 yang mengantarkan Indonesia ke era baru yaitu era reformasi.

Sejarah akan selalu ada. Bagi kita, peristiwa lampau adalah sejarah, namun bagi generasi yang akan datang, peristiwa sekarang kan menjadi sejarah. Apa pun itu, peristiwa penting baik buruk maupun baik pasti akan selalu dikenang, menjadi sejarah yang harus diambil hikmah dan pelajarannya. Karena sejarah tidak untuk dilupakan, melainkan untuk selalu kita ingat. 

Mungkin kita  mengenal istilah Jas Merah, yaitu kepanjangan dari “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, ´yang merupakan judul dari pidato Presiden pertama Indonesia. Itulah yang harus kita lakukan sebagai penerus bangsa. Selalu mengenang jasa para pahlawan dengan berjuag memajukan Indonesia dengan cara masing-masing. Semoga Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, makmur, dan sejahtera bagi seluruh warganya. Karena seperti kata Soekarno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. 

Dirgayahayu Indonesiaku.

Jumat, 21 Agustus 2020

BAHAGIA MENJALANI PERAN

Foto : Pixabay

Tak terasa, menjelang enam tahun sudah pernikahanku. Tak terasa pula telah kulalui dua peran selama ini, yaitu menjadi istri dan ibu bagi dua anak hasil pernikahnku. Ah, bukan tak terasa … tapi sangat terasa. Bagaimana pun, menjadi seorang istri apalagi seorang ibu menuntut keahlian yang lebih. Bisa dibilang, ahli segala bidang. Kalau seperti di tulisan_tulisan yang beredar, ibu itu merangkap berbagai peran. Seorang guru, tukang masak atau koki, ahli keuangan, arsitek, jasa laundry, bahkan cleaning service. Ya … walaupun itu hanya kiasan, tapi cukup menggambarkan bahwa begitu banyak tugas dan kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang ibu.

Dulu, selagi belum menikah, enak saja memikirkan nanti setelah menikah begini-begitu, gampang paling ya seperti itu kerjaan rumah tangga. Tapi nyatanya, ada saja kejadian mengejutkan yang dialami emak-emak daster sepertiku. Ada kalanya satu hari, di mana anak selalu rewel, tantrum, dan banyak maunya. Sedangkan mood kita sebagi ibu juga tidak selalu baik. Kalau sudah seperti itu, rasanya sangat ngenes menjadi ibu. Iyakah? Seperti itukah? Mungkin seperti itu tanggapan yang terlontar ketika ada kalimat ngenes menjadi seorang ibu. Tapi, yakinlah, pertanyaan itu akan terjawab jika sudah mengalaminya sendiri.

Masalah rengekan anak  hanya salah satu hal yang membuat ngenes bagi seorang ibu. Ada hal lain yang bisa membuat mood menjadi down, seperti pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya, beban ekonomi yang mungkin dialami oleh sebagian ibu, atau masalah lain seperti omomgan orang lain yang berkomentar dengan cara kita mendidik anak. Tidak heran, banyak kasus seorang ibu yang mengalami gangguan kesehatan mental. Betapa miris ketika mendengar berita seorang ibu membunuh anaknya, bunuh diri bersama anaknya, atau kasus lainnya. 

Kasus-kasus tersebut mungkin membuat sebagian kita yang mendengarnya akan menyalahkan si ibu. Betapa tidak sabarnya ibu itu, atau mungkin menganggap si ibu kurang iman sehingga melakukan hal-hal yang demikian. Tapi, bagi sebagian yang lain yang bisa berempati akan prihatin dan tidak sepenuhnya menyalahkan si ibu. Karena memang permasalahan yang dialami seorang ibu sangat kompleks. Sehingga rentan membuat kondisii kejiwaan atau kesehatan mental mudah terganggu. Masalah seperti ini kebanyakan akan dialami oleh ibu yang baru saja melahirkan, atau memiliki anak balita. Gangguan kesehatan mental seperti itu dikenal dengan sebutan baby blues atau post partum syndrome.

Baby blues biasanya dialami ibu  yang kurang mendapat perhatian oleh orang-orang di sekitarnya. Bisa juga karena komentar-komentar negativ dari orang di sekelilingnya. oleh karena itu, perlu pemahaman di kalangan masyarakat agar bisa  lebih berempati terhadap apa yang dialami seorang ibu. Terlebih bagi ibu yang belum lama menyandang status barunya.

Kembali ke cerita tentang kesibukan yang aku jalani. 

Foto : Pixabay

Ya, aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang setiap harinya berkutat dengan urusan domestik dan juga berbagai tingkah laku anak. Tak dipungkiri, kadang pun aku merasa bosan dengan rutinitas yang aku jalani. Keterbatasan mobilitas karena memiliki  anak balita membuatku sering merasa iri dengan para ibu yang dengan leluasa bisa pergi kemana mereka mau. Kadang pun terbayang kebebasan yang dulu aku lakukan sebelum menikah dan mempunyai anak. Tapi kemudian aku berpikir, bahwa inilah episode kehidupan. Ada masanya diri ini bisa bersenang-senang, tapi ada masanya pula ketika tanggung jawab dan kewajiban di atas segalanya. Akan bersama siapa anak-anak jika bukan denganku, ibunya sendiri? Kini, saatnya episode penuh warna-warni dengan tingkah laku anak yang sedang aku jalani. 

Namun begitu, dunia emak daster tidak selalunya  ngenes. Banyak pula kesenangan yang dialami ketika menjadi seorang ibu. Setelah menjadi seorang ibu, aku menjadi tahu banyak hal yang dulu tak ku ketahui. Dengan menjadi seorang ibu pula, waktu untuk belajar justru tidak ada habisnya. Bagaimana mengelola emosi kepada anak, bagaimana menghadapi anak yang sakit, bagaimana menghadapi anak yang rewel. Tentunya itu hal yang terus menerus harus dipelajari. Dan, dengan belajar, kita jadi lebih tahu bnayak hal.

Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya juga memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih mengetahui potensi apa yang kita miliki. Seperti halnya yang aku alami, waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah membuatku lebih bebas melakukan hobi yang aku sukai. Karena “keisengan” dan ketidaksengajaan di sela-sela kesibukan menajdi ibu rumah tangga, akhirnya aku menemukan sebuah komunitas kepenulisan dan bergabung dengannya. Dari perkenalan itu, aku juga semakin tahu tentang dunia literasi dengan bergabung bersama komunitas-komunitas lain. 

Hal baru yang menjadi self healing tersendiri bagiku di tengah kebosanan dan perasaan minder menjalani peran sebagi emak daster. Bosan karena rutinitas yang terkungkung hanya di rumah, minder karena ijazah yang didapat hanya tersimpan rapi di lemari. Setelah bergabung dengan komunitas literasi, aku jadi mempunyai semangat untuk lebih banyak berkarya. Dan membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak selalu tertinngal. Karena setiap orang memiliki potensi masing-masing. 

Mungkin saat ini aku memang terbatas untuk bisa berkegiatan di luar, tapi aku cukup terhibur dengan pertemanan luas di dunia maya. Dan lagi bukan sembarang teman yang aku miliki, namun banyak orang-orang hebat yang sangat mengisnpirasiku yang aku kenal di dunia mya. Tentu saja, teman di komunitas yang aku ikuti.

Kini, menjalani peran dengan bahagia sebagai ibu rumah tangga menjadi pilihanku. Terus belajar meningkatkan kualitas diri, agar mempu memberi perubahan yang baik untuk diri sendiri, suami, anak-anak, dan orang-orang di sekitarku. Aamiin, Inysaa Allah. 

Jumat, 31 Juli 2020

IBADAH QURBAN, SEBUAH UJIAN KEIKHLASAN


Hari raya Idul Adha adalah hari raya ke dua umat islam yang selalu disambut penuh rasa syukur oleh umat islam. Setelah hari raya Idul Fitri tentunya. Jika saat Idul Fitri kita memiliki ritual khas yaitu puasa 30 hari sebelumnya di bulan Ramadhan, maka saat Idul Adha pun kita memiliki ritual khas yaitu puasa hari Arafah yang hanya satu hari yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Lebih baik lagi jika dilengkapi puasa tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah. Atau bahkan puasa sunnah mutlak dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan tanggal Dzulhijjah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah)” (HR. Bukhari)

Selain ritual khusus yaitu puasa sebelum  kedua hari raya ini, ada ciri khas lain dari masing-masing hari raya. Saat dul Fitri, ciri khas makanan yang tersaji adalah ketupat dan opor ayam, sedangkan saat Idul Adha adalah makanan hasil olahan dari daging kambing atau sapi. Ya, karena saat Idul Adha umat muslim akan menyembelih sapi atau kambing sebagai ritual ibadah satu tahun sekali ini. Yaitu ibadah qurban.

Bukan, bukan hendak membahas hidangan hari raya, namun saya akan mencoba menuliskan pandangan saya tentang ibadah qurban.

Ibadah qurban sebagaimana kita ketahui, pasti akan mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Nabi Ismail. Perintah dari Allah  yang dating melalui mimpi itu, sungguh merupakan ujian keimanan bagi seorang hamba-Nya.  Bagaimana tidak, anak yang sudah lama dinantikan sebagai keturunan dan generasi penerus, justru harus dikorbankan dengan cara yang menggetarkan. Disembelih dengan tangannya sendiri. Hanya manusia pilihan yang sanggup melewati ujian keimanan itu. Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, serta Nabi Ismail lulus dari ujian tersebut karena telah patuh dengan perintah Rabbnya. 

Allah Maha Bijkasana dan Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Allah mengganjar langsung ketaatan hamba-Nya dengan mengganti Nabi Ismail menjadi seekor kambing sesaat sebelum mata pisau mengenai leher Nabi Ismail. Sungguh peristiwa yang tertulis dlam Alquran surat As Saffat Ayat 102-111 ini selalu membuat hati bergetar saat membayangkannya. Bayangkan keikhlasan dan ketegaran  seorang ayah menyembelih anaknya sendiri. Bayangkan keikhlasan dan  ketegaran seorang istri sekaligus ibu merelakan anak darah dagingnya sendiri untuk disembelih sebagai wujud ketaatan kepada suami. 

Andai kau seorang Hajar, sanggupkah kau melakukannya? Sebuah pertanyaan yang mungkin serratus persen akan dijawab “tidak” oleh ibu-ibu kebanyakan. Melihat anak sakit pun rasanya tidak tega, bagaimana jika harus disembelih? Maasyaa Allah betapa tauhid kita sangat jauh berbeda dengan ibunda Hajar.

 Jika Nabi Ibrahim dan Hajar diuji dengan rasa sayang terhadap anaknya, maka kita diuji dengan rasa sayang terhadap harta. Sekarang kita hanya diperintahkan untuk mengorbankan sebagian harta kita, bukan mengorbankan anak. Sekarang kita hanya perlu melakukan ibadah qurban sebagai refleksi dari peristiwa “penyembelihan” Nabi Ismail. 

Ibadah qurban adalah ibadah yang menuntut keikhlasan dan kemauan serta niat kuat untuk melakukannya. Bukan masalah seberapa bnayak harta yang dipunyai untuk membeli hewan qurban, namun lebih kepada niat, usaha, dan doa yang dilakukan. Banyak di antara orang kaya yang masih enggan untuk melakukakan ibadah qurban padahal mereka mampu. Sebaliknya banyak dari kalangan orang kurang mampu justru bisa menunaikan ibadah harta ini, karena dilatarbelakangi oleh niat ibadah yang tulus. Allah pasti akan menolong hamba-Nya yang menolong agamanya.

Sungguh ibadah qurban adalah ujian keikhlasan bagi manusia. Apakah manusia akan dengan lantang berucap ‘Aku adalah Ismail” yang siap mengorbankan dirinya di jalan Allah. Atau malah menggenggam erat hartanya demi kenkimatan duniawi. Bagi orang-orang beriman tentunya akan berusaha meneladani keikhlasan Nabi Ismail untuk berkorban. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang diberi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakannya. Insyaa Allah Aamin.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha. Semoga Allah meridhoi niat dan usaha kita untuk senantiasa meneladani Sunnah Nabi dan keikhlasan keluarga Ibrahim dalam  melaksanakan ibadah qurban. Barakallah untuk semua sohibul qurban di mana pun berada. 

Mendengarkan gema takbir di dinginnya malam,  10 Dzulhijjah 1441 H.

Sabtu, 11 Juli 2020

AKU DAN HOBI MEMBACAKU

Sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sangat suka membaca. Membaca apa saja yang ada di hadapanku. Entah itu majalah bekas, sobekan koran, bahkan buku-buku yang sudah usang. Aku paling ingat ketika ada majalah bekas di rumah bibiku. Saat itu hampir setiap ada kesempatan pasti aku isi dengan membaca. Sampai-sampai nenekku yang tidak bisa melihat pun  tahu, jika awalnya ada suaraku lalu tiba-tiba hening, sudah dipastikan bahwa aku tengah asyik membaca.

Ah, jika mengingat masa itu betapa indahnya. Membaca seakan menjadi candu untukku. 

Kegemaran membaca terus aku lakukan hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sekolah SMP ku yang tergolong favorit memiliki perpustakaan yang cukup komplit bagi ukuran sekolah di daerah. Buku apa saja jika itu menarik, pasti langsung aku pinjam. Bahkan beberapa  jilid atau seri ensiklopedia pun aku pinjam. Sampai-sampai kartu perpustakaanku beberapa kali ganti karena seringnya aku meminjam buku.

Oh iya, aku paling ingat ketika meminjam buku Tom Sawyer. Cerita tentang anak nakal yang berpetualang bersama-sama temannya. Yah, namanya sudah belasan tahun, aku lupa-lupa ingat cerita apa saja yang ada dalam buku Tom Sawyer itu. Aku pun lupa siapa penulis buku itu. Yang pasti, aku sangat berkesan dengan buku itu.

Setelah lulus dari SMP, aku melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Kejuruan. Waktu pertama masuk ke jenjang sekolah ini, yang aku cari tidak lain adalah perpustakaan. Aku ingin melanjutkan kegemaranku meminjam buku di perpustakaan. Namun, sayang sekali, perpustakaan di sekolahku yang baru ini tidak seperti yang aku bayangkan. Buku-buku yang tersedia tidak sesuai dengan minatku. Lebih bannyak tentang buku akuntansi, penjualan dan lain sebagainya. Mungkin karena sekolah kejuruan, jadi lebih banyak menyediakan buku seperti itu. 

Sejak saat itu, kegemaran membacaku sedikit berkurang. Aku lebih suka menghabiskan waktu bercanda, ngobrol bersama teman dari pada membaca. Sungguh sangat disayangkan.

Waktu pun terus berjalan, bagaimanapun aku masih memiliki ketertarikan untuk membaca. Aku tidak mempunyai buku favorit. Setiap buku yang menurutku eye catching , aku baca. Tidak terpatok harus buku fiksi atau novel. Novel yang aku baca pun tidak banyak. Bahkan jujur saja, aku tidak pernah membeli novel, hehe. Hanya pernah diberi hadiah oleh teman, yaitu novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. 

Yah, bagiku membaca tidak harus terpatok pada jenis tulisan tertentu. Membaca buku nonfiksi seperti kumpulan artikel jika itu menarik dan informasinya sangat aku butuhkan, sudah pasti aku membelinya. Teringat beberapa waktu lalu ketika salah seorang teman memasang story WA Open PO buku Pemuda Bukan Remaja, karya Kiki Barkiah,  aku langsung tertarik, dan tanpa pikir panjang ikut dalam antrian untuk membelinya.

Sekarang ketika sudah menceburkan diri dalam dunia literasi dan tergabung dalam beberapa komunitas kepenulisan, buku-buku yang aku beli ya tidak lain buku antologi bersama teman-teman di komunitas, seperti ODOP ini.  Tapi, entah kenapa ada saja rasa kantuk yang mendera, ketika membaca buku. Berbeda jika membaca tulisan di media sosial, membaca sampai beberapa jam pun mata masih sanggup melek. Tidak merasa ngantuk sedikit pun. Mungkinkah karena sekarang eranya literasi digital? Ehm, entahlah. 

Apa pun itu membaca adalah hobi yang bermanfaat. Seperti kata pepatah, membaca adalah jendela dunia. Dan itu sangat benar adanya. Jadi, yuk terus tularkan kegemaran membaca.

Jumat, 03 Juli 2020

DUA MOMEN ISTIMEWA TAK TERLUPA

Kalau ngomongin pengalaman hamil dan melahirkan itu tidak akan ada habisnya. Rasanya selalu semangat ketika harus menceritakan dua momen menakjubkan yang dialami kaum wanita ini. Sampai kapan pun dua peristiwa penting itu pasti akan selalu teringat.

Pas sekali tema arisan blog Squad Blogger Odop kali tentang hamil dan melahirkan, bertepatan dengan yang ada di pikiranku saat ini. Beberapa hari yang lalu, aku baru saja bercerita tentang proses kelahiran anak pertama, Hanan. Seperti yang aku sampaikan tadi, pengalaman melahirkan akan selalu teringat. Walupun sudah lima tahun berlalu, namun detik demi detik prosesnya masih sangat aku ingat. Sangkin ingatnya dengan detail proses itu, aku bahkan kemarin menuliskannya dalam ceita bersambung sampai lima part. Hmm, kalau diturutin, mungkin akan sampai sepuluh part.



Sebenarnya bukan hanya bagi istri yang melahirkan, momen ini akan srlalu teringat, tetapi hal yang sama pasti akan dirasakan suami. Pengalaman pertama istri melahirkan pastinya sangat membuat para calon bapak baru merasa tegang, grogi, bahkan mungkin takut.  Jadi teringat ketika habis melahirkan Hanan, iseng aku membuka hape Suami, aku lihat chatnya dengan teman-teman. Dalam satu chat kepada bagian personalia kantornya tertulis, 

[Maaf ya Mbak, tadi nggak sempat ijin dulu. Maklum lagi tegang-tegangnya]. 

Wah, membaca chat itu aku langsung merasa senang sekali sekaligus terharu. Ternyata walaupun pembawaanya kalem, tetap saja dia merasa grogi. So sweet dah, hehe …. Oh iya, yang paling membuat aku merasa sangat dicintai oleh Suami adalah ketika ibuku bercerita, kalau Suami sempat nangis sambil cium tangan Ibu waktu mereka habis sholat maghrib berjamaah paska menemaniku melahirkan anak pertama.

Huaaa I love you so, my husband, itu semua aku lakukan untukmu dan anakmu, wkwkwk. 

Ah, ada lagi momen manis saat ‘suami mendampingi istri melahirkan’ yang dilakukakan suamiku. Waktu lahiran anak ke dua, mungkin dia tidak segrogi dulu waktu melihatku melahirkan anak pertama. Namun, tetap saja rasa grogi pasti ada. Terbukti begitu anak ke dua lahir, dia langsung cium-cium keningku pertanda senang campur lega mungkin ya, hehe ….

Untuk meyakinkan seperti apa yang dirasakan Suami ketika mendampingi istri melahirkan, kemarin aku sempat tanya ke dia, 
“Bi, pas Ummi lahiran Hanan, Abi perasaannya gimana tuh? Jujur lho, ini buat data tulisan, haha.”

Setelah beberapa detik seperti berpikir akhirnya dia jawab,
“ Ya, gimana ya? Pastinya harap-harap cemas, dan pasti mensuport dong.”

“Yakin? Nggak kasihan gitu lihat Ummi kesakitan?” semakin kepo aku tanya, mumpung kan lagi bahas ini.

“Ya nggak lah, kalau kasihan kan kesannya nggak ngasih semangat. Malah bisa bikin Ummi down juga kan?”

Oh iya iya, aku pun manggut-manggut. Benar sekali yang diucapkannya. Aku selalu ingat apa yang dilakukannya ketika mendampingku melahirkan. Beberapa kali selama menunggu pembukaan lengkap, dia selalu mensuport dengan melafalkan doa-doa yang ditiupkan ke ubun-ubunku. Itu menjadi penyemangat tersendiri bagiku dalam melaui proses persalinan. 

Alhamdulillah sekali, beruntung memiliki suami siaga yang dibutuhkan saat melalui proses itu. 

Seperti halnya melahirkan, proses yang tak kalah unforgetable adalah masa-masa sembilan bulan sebelumnya. Yaitu ketika menjalani proses kehamilan. Proses kehamilan memang proses yang penuh cerita. Bahkan, dalam Al Quran pun Allah membahas masalah ini. Dalam Surat Luqman Allah menyebutkan bahka kehamilan adalah proses kepayahan yang bertambah-tambah. Maasyaa Allah betapa mulianya perjuangan wanita dalam melalui proses kehamilan.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika wanita hamil banyak merasakan hal-hal berbeda dari sebelumnya. Banyak mitos tentang ibu hamil yang biasa dialami oleh beberapa wanita. Pernah mendengar seorang wanita hamil yang katanya benci sama bau suaminya, benci bau sabun, benci bau makanan, dan lain sebagainya. Katanya kalau bau itu tercium pasti akan sebal atau yang umum dialami, yaitu mual-mual. Jadi, mereka akan sebisa mungkin menjauhinya.Tapi ada pula wanita hamil  yang malah mencari bau. Katanya ada wanita hamil yang suka bau minyak tanah, suka bau bensin, dan lain sebagainya.

Hal-hal aneh di luar kebiasaan itu mungkin hanya bagi sebagian orang. Kalau aku sendiri sama sekali tidak mengalami hal-hal aneh bahkan ngidam sekalipun. Dua kehamilan yang sudah aku jalani sama sekali tida berbeda dengan hari-hari biasa. Hamil, hamil aja, nggak pake ngidam atau aneh-aneh. Tidak ada pantangan. Kata orang sih namanya hamil ngebo. Satu-satunya hal yang paling berasa beda saat hamil adalah nafsu makan yang tinggi. Ehem, bawannya laper terus, apa aja dimakan, hehe ….

Ini pun yang membuat aku bersyukur lagi. Manjalani kehamilan yang ringan dan menyenangkan. Tanpa mual, tanpa keluhan berarti, tanpa ngidam aneh-aneh, dan yang pasti ngebo. Tidak ada makanan yang ditolak oleh perut. Selalu bersyukur dengan apa yang aku alami. Semoga di kehamilan selanjutnya, akan seperti ini terus yang terjadi. 

Bagiku, hamil dan melahirkan adalah dua momen istimewa sekaligus menyenangkan yang tak akan pernah terlupa. Dari dua proses inilah gelar dan peranku berubah. Dari yang dulunya seorang anak, lalu berubah menjadi istri. Setelah dua proses inilah peranku berubah menjadi ibu. Maasyaa Allah Barakallah, terima kasih Engkau telah Mengamanahkan buah hati kepadaku dan Suami. Semoga anak-anak yang aku lahirkan menjadi anak sholih/ sholihah yang selalu taat pada Allah dan Rasul-Nya. Dan menjadi penyelamat bagi orang tuanya di akhirat kelak. Aaamiin.

Kamis, 25 Juni 2020

KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI



Pandemi yang disebabkan oleh virus covid -19 memang telah merubah beberapa pola kehidupan manusia. Tak terkecuali dalam dunia pendidkan. Kebijakan pendidikan di masa pandemi mengharuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah diganti dengan kegiatan belajar online yang dilakukan di rumah. Hal ini tentu membawa dampak tersendiri bagi beberapa pihak yang terlibat, yaitu guru, murid, dan wali murid.

Bagi  para guru, kegiatan belajar secara online tentunya menuntut pengetahuan teknologi yang lebih luas. Penguasaan beberapa aplikasi wajib dimiliki oleh para guru guna memudahkan  tugasnya dalam mengkoordinir tugas dari para siswa. Misalnya saja, aplikasi Google Classroom. Bagi para guru yang melek teknologi, mungkin hal ini bukan masalah besar. Namun, berbeda bagi para guru di pedesaan dengan akses internet terbatas dan mungkin  juga penguasaan akan aplikasi yang kurang. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

Bagi para murid, kebijakan sekolah di rumah membuat mereka harus lebih aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dituntut aktif agar tidak ketinggalan kegiatan belajar secara online.

Bagi para orang tua,  pembelajaran di rumah berbasis online,  mengharuskan mereka berperan aktif mendampingi putra-putrinya dalam prosesnya.  Kecakapaan,  kesabaran,  dan letelatenan menjadi syarat yang harus dimiliki.  Namun,  sayang kenyataan di lapangan,  banyak oramg tua yang mengeluhkan akan hal ini.  

Dampak yang ditimbulkan dari kebijkaan pendidikan di masa pandemi ini mungkin tidak akan terlalu berat dirasakan bagi warga perkotaan dengan akses internet dan sumber daya manusia yang memadai.  Wali murid dengan penguasaan ilmu pengetahuan engerahuan dan kecakapan bisa menjalaninya  enjoy.  Banyak hikmah yang bisa diambil ketika bisa mengajari anak sendiri di rumah.  Bahkan tak jarang dari mereka yang tetap meilih untuk Home Schooling ketika kebijakan New Normal perlahan diterapkan. 

Berbeda dengan masyarakat di desa terpencil atau pelosok,  proses belajar dari rumah berbasis online menjadi kendala tersendiri agar bisa tetap berjalan.  Jaringan internet yang tidak memadai dan sumber daya manusia --dalam hal ini wali murid--,  yang kurang berkompeten membuat proses ini tersendat. 


Keadaan miris juga bisa dilihat saat proses belajar di rumah berbasis online ini tidak bisa dijalankan.  Banyak anak-anak yang menghabiskan waktu mereka hanya untuk bermain-main.  Kalau pun mereka mengikuti atau mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh guru dari ponsel orang tuanya,  tetap saja penerimaan materi tidak semaksimal saat mereka mendapatkan pelajaran di sekolah. 


Keadaan berbanding terbalik yang membuat prihatin. Semoga wabah Covid - 19 ini dapat segera berlalu dan membuat segala aktivitas kembali normal seperti sedia kala. 

BOLEH PUKUL, JANGAN KENA

Waktu Hanan masih usia 3 tahunan,  dia suka sekali memukul. Energinya seakan tidak ada habisnya untuk loncat ke sana ke mari sambil memeraga...